BFIndarto

Live & Learn

Quote of the Day

  • "When it is obvious that the goals cannot be reached, don't adjust the goals, adjust the action steps." - Confucius

Recent Posts

Tags

Recent Activities

Feb 15-19, 2010
Deliver IT training
Title: WSS-MOSS 2007, Native Enterprise
Location: Bandung, Indonesia

Feb 1-5, 2010
Deliver IT training
Title: Cisco Fast-Track, Sidola
Location: Bandung, Indonesia

Decn28-31, 2009
Deliver IT training
Title: Windows Server 2003
Location: NetTrain, Jakarta

Nov - Dec, 2009
Deliver IT training
Title: MCTS ASPNET Course
Location: UMS, Sabah - Malaysia

June - July, 2009
Deliver IT training
Title: Chevron GIL 3 Training
Location: Riau, Indonesia

Jan 24 - Feb 08, 2009
Deliver IT training
Title: Cisco ICND 2
Location: Cisco Academy NetCampus, Jl. Cakalang, Jakarta

Nov 29 - Dec 31, 2008
Deliver IT training
Title: MCAD Course
Location: UUM, Kedah - Malaysia

June 2008 - July 2010
Deliver IT training
Title: HTML, Photoshop, MS. Office, MS. Access
Location: Mahatma Gading International School, Jakarta

July 17 - July 25, 2008
Deliver IT training
Title: Cisco Academy
Location: Department of Foreign Affairs - Brainmatics, Jakarta

June 12 - June 19, 2008
Deliver IT training
Title: MCAD Course
Location: UiTM, Selangor - Malaysia

May 20 - June 12, 2008
Deliver IT training
Title: MCAD Course
Location: UMP, Pahang - Malaysia

April 28 - May 16, 2008
Deliver IT training
Title: MCAD Course
Location: USM, Penang - Malaysia

March – May , 2008
Deliver IT training
Title: ICND Course
Location: Junicorp Indonesia - Jakarta

Community

Archives

November 2008 - Posts

Trainers... Beberapa Tips

Posting pertama dengan Bahasa indonesia. Saya mau share saja beberapa pengalaman saya sebagai trainer.

Menjadi trainer itu gampang-gampang susah. Gampang karena ya, pertama, semua orang bisa menjadi trainer, dan kedua pekerjaanya cenderung hanya menginstruksikan dan "berbicara" (mostly) saja. Susah.. karena trainer akan menghadapi berbagai macam orang yang mewakili berbagai macam kepribadian, harapan, dan masalah. Sepertinya, hal ini lah yang membuat orang tidak memilih menjadi trainer. Saya sering mendapatkan pendapat, "berbicara di depan banyak orang itu membuat perut sakit", "lutut bergetar", "grogi" atau "isi kepala hilang.. blank!"

Kalau tentang menjadi trainer itu gampang dan semua orang bisa menjadi trainer, saya akan buat itu sebagai pengumuman saja. Karena memang begitulah adanya. Jadi, kalau seseorang tidak mau jadi trainer, itu cuma masalah mau atau tidak saja.

Nah, untuk orang yang mau jadi trainer, atau yang memandang bahwa menjadi trainer itu sulit, saya akan share sesuatu. Syukur alhamdulillah saya dipilihkan oleh Allah SWT seorang istri yg berlatar belakang psikologi, jadi sedikit banyak, saya ada referensi.   :)

Issue pertama, seorang trainer tentu saja akan lebih banyak berhadapan dengan manusia/orang lain. Banyak orang yang berkecimpung di dunia IT, karena mereka memiliki "long relationship" dengan mesin (daripada dengan teman atau bahkan pasangannya.. mungkin, he he he) cenderung memperlakukan siswa seperti perlakuan mereka terhadap mesin. Atau menganggap siswa memiki kemampuan yang (hampir) sama dengan mesin. Contoh kasus, kita mungkin kesal kalo sang siswa tidak ingat tentang apa yang sudah dibahas di bab sebelumnya. Atau... menjadi frustasi karena siswa "ngga ngerti-ngerti". Atau, tiba-tiba siswa mencoba sesuatu yang baru, memodifikasi sesi lab, dan hasilnya adalah error dan waktu training habis untuk ngutak-ngatik sesi lab itu.

Untuk issue yang ini, tentu saja kita perlu ingat bahwa komponennya manusia dan mesin itu beda. Prosesor dan memorinya manusia dengan mesin itu beda. Manusia mudah lupa, mesin tidak. Manusia gampang bosan, mesin tidak. Manusia adalah mahkluk kreatif, mesin tidak. Manusia punya imajinasi, mesin tidak. Mesin bisa menyimpan banyak informasi secara instant dan mengakses informasi itu dengan cepat, manusia membutuhkan waktu dan pengulangan untuk bisa menyimpan informasi untuk waktu yang lama. Mesin akan langsung memberikan informasi pada saat ada permintaan, sedangkan manusia... biasanya akan lihat ke langit-langit dulu, barangkali informasi yang diminta ada di sana, he he..

Kuncinya, untuk menjadi trainer itu adalah "mengerti manusia".

Issue kedua, setelah kita menyadari bahwa hubungan trainers dengan trainee adalah human relationship, rasanya tinggal bagaimana kita dapat memberikan instruksi, berbicara, atau berkomunikasi dengan baik (sehubungan dengan kerjaannya trainer). Saya akan coba ketengahkan beberapa tips, sesuai dengan pengalaman dan beberapa referensi.

Tips No.1: Jadilah murid yang terbaik. Yang dimaksud adalah, setidaknya kita pernah mengalami apa yang akan dialami oleh calon siswa kita. Contohnya, jika kita akan memberikan training sertifikasi, setidaknya kita sudah pernah mengalami trainingnya sampai ke ujiannya (dan lulus). Trainers akan lebih pede dan tahu apa yang akan dialami/dilewati oleh siswa. Pengalaman itu bisa di-share. Sewaktu saya diminta memberikan training di salah satu Cisco Academy, saya langsung ikut salah satu kelas-nya, belajar, dan mengerjakan semua test nya. Memang berat, karena ujiannya banyak sekali, tapi berbagi pengalaman rasanya memang lebih baik daripada berbagi knowledge.

Tips No. 2: Kenali siswa. Dalam hal ini, selain kita perlu mengenal nama dan latar belakang mereka, yang lebih penting lagi adalah mengetahui motivasi mereka dalam menjalani training. Apa saja harapan (expectation) mereka begitu mereka menyelesaikan training. Dengan mengenali motivasi dan goal mereka, trainers akan lebih bisa mengontrol situasi dan mensinkronkan materi dan harapan.

Tips No. 3: Contoh dan latar belakang munculnya suatu konsep adalah lebih penting daripada konsepnya itu sendiri. Pada saat menerangkan konsep, usahakan jangan mengenalkan nama konsepnya dulu, tapi akan lebih baik berangkat dari contoh masalah; kenapa kita perlu si "konsep" itu. Dan kita juga bisa mulai menerangkan mengenai konsep itu dengan analogi-analogi yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Misalnya tentang Web Service. Saya pernah membahas mengenai konsep ini di kelas dengan menganalogikannya dengan laundry service. Daripada kita nyuci sendiri, lebih baik kirim aja pakaian ke laundry, kita tinggal ambil hasilnya. Daripada kita buat function sendiri, lebih baik cari aja service yang menyediakan function itu di Internet, kirim value yang akan diproses, dan.. walla.. kita dapat hasilnya.

Tips No. 4: Be Updated. Selalu update diri. Teknologi baru selalu datang. Selalu terhubungan dengan sumber pengetahuan yang ter-update, komunitas, dan industri. Kalau ada kesempatan untuk berkecimpung di industri.. just grab it. Hal itu akan terus menambah pengalaman kita.

Tips No. 5: Remember, No Body is Perfect. Trainers pun bukan personal yang tahu dan bisa segalanya. Selalu rendah hati. Ada saat-saat dimana kita belum bisa memberikan solusi untuk apa-apa yang ditanyakan siswa, atau belum bisa menjawab pertanyaan siswa. Apalagi kalau kebetulan kita adalah trainer yang pengalaman industrinya sedikit (seperti saya) atau fresh graduate yang kebetulan pengalaman men-training dan industrinya belum banyak. Tidak terlalu bermasalah kalau kita mengakui bahwa kita belum memiliki solusi/jawabannya (asal jangan sering-sering). Jangan posisikan diri sebagai problem solver, tapi posisikan diri lebih cenderung ke fasilitator. Gali pengetahuan dan pengalaman siswa yang lain. Apalagi kalau siswanya kebetulan seorang profesional di bidangnya masing-masing. Banyak keuntungan jika kita memposisikan diri sebagai fasilitator. Pertama, siswa tidak akan terlalu tergantung kepada trainers. Daripada kita memberikan solusi secara langsung, lebih baik kita bimbing mereka tentang bagaimana mencari solusi. Kedua, mind-sharing akan memperkaya semua civitas kelas. Termasuk trainer-nya.

Kedah, 27 November 2008.

Posted: Nov 27 2008, 10:19 PM by Bambang F. Indarto | with 8 comment(s) |
Filed under: ,