Sebelum saya lanjutkan, mohon maaf jika judulnya mungkin kurang tepat, karena saya sendiri merasa demikian. Tapi tetap saya pasang juga karena judul harus yang eye-catching (katanya).
Tulisan ini sekedar menyambung apa yang sudah dituliskan Suhu Aris Lesmana, beliau sudah menyampaikan beberapa point yang penting mengenai sertifikasi, mulai dari keuntungannya, jenisnya, cara ujiannya, sampai ada beberapa contoh soalnya. Lebih lengkapnya rekans bisa mendownload e-book nya. Dan topik ini saya tuliskan lagi dengan latar belakang pertanyaan-pertanyaan dari siswa-siswa di kelas dan kunjungan saya ke UPI: Bedah Windows 7, beberapa waktu lalu.
Pertama yang ingin saya sampaikan adalah mengenai keuntungan (benefit) dengan kita memiliki sertifikasi (saya akan fokus ke Microsoft). Hal yang paling nyata adalah “we will be Internationally recognized”. Hal ini jika dibandingkan dengan (mohon maaf) gelar yang kita dapat dari kuliah, yang terkesan hanya berlaku di Indonesia. Pengalaman saya sendiri, banyak moment ketika saya menghadapi interview international via telepon, ST yang saya punya malah menjadi bahan diskusi. Jadi, untuk rekans yang kiranya punya keinginan untuk bekerja secara internasional, maka memiliki sertifikasi adalah sesuatu yang perlu dimiliki – tentu saja dibarengi dengan penguasaan bahasa internasional (Inggris, Mandarin, dll).
Sertifikasi juga akan menjadikan kita “berbeda” – punya nilai plus – dibandingkan dengan lulusan PTN/PTS yang lain, karena kita punya skill yang disertifikasi. Nilai plus karena kita punya sesuatu untuk bisa lebih dipertimbangkan terserap oleh perusahaan “calon tempat kita bekerja”. Nilai plus ini juga bisa berarti kita punya kesempatan menegosiasikan fee yang nantinya akan kita dapat. Beberapa siswa bahkan sengaja ikut training, ujian dan be certified hanya dengan tujuan untuk menaikkan gaji.
Keuntungan selanjutnya adalah kita akan punya akses dan menjadi bagian dari teknologi vendor – Microsoft. Saya, dan tentu saja rekans lain yang sudah setidak-tidaknya MCP (Microsoft Certified Partner) bisa mengakses pengetahuan, lab practices, puluhan e-book, mendapat potongan harga untuk buku-buku, produk, merchandise, bahkan bisa mendapatkan kesempatan untuk mencoba software baru secara legal (genuine), dan gratis untuk selanjutnya bisa memberikan feedback kita ke Microsoft.
Selanjutnya, setelah kita tahu keuntungan yang akan kita peroleh, pertanyaan yang muncul biasanya adalah: apakah sulit untuk mendapatkannnya? Saya tidak akan jawab dengan sulit, mudah atau gampang-gampang susah. Seperti yang disampaikan Mr. Witwicky (The Transformers): “No Sacrifice, No Glory”. Untuk mendapatkan itu semua, memang ada harga yang harus dibayar. Harga dalam hal waktu, usaha, dan uang. Saya analogikan seperti kita akan menhadapi ujian UMPTN. Untuk lulus, ada harga dalam tiga hal itu yang harus dibayarkan.
Untuk waktu dan usaha, saya yakin rekans sudah jelas bahwa dalam jangka waktu tertentu, kita harus fokus belajar dan latihan. Sumber belajar dan latihan banyak. Dan Microsoft selalu menyediakan yang namanya Self-Paced materials. Jika rekans ingin ikut training, juga sangat disarankan.
Kemudian, jika rekans sudah siap, tinggal ujian saja. Detail tentang track teknologi, tata-cara ujian, sudah disampaikan oleh Suhu Aris Lesmana.
Tidak seperti UTS/UAS atau UMPTN, ujian sertifikasi bisa dilakukan kapan saja, tinggal disesuaikan dengan jadwal yang ada di Prometric Testing Center. Rekans bisa cek di mana saja Prometric Testing Center yang terdekat dengan posisi rekans sekalian melalui situs Prometric.
Pada tahap ini, biasanya, kendala yang dihadapi adalah fee ujian. Di Indonesia, satu kali ujian, rekans harus membayar $50. Mahal? Sebetulnya tidak, secara.. sepengetahuan saya, fee ujian di Indonesia adalah termurah nomor 2 setelah India. Tentu saja sepertinya rekans belum tentu mau ujian di sana supaya fee nya murah. Kendala biaya ini biasanya dihadapi oleh rekans mahasiswa.
Untuk kendala ini, saya ada beberapa tips. Banyak jalan menuju Roma. Pertama, cari sponsor. Biasanya yang terdekat ya, orang tua (hehehe). Bisa juga coba mengajukan ke donatur atau perusahaan.
Kedua, selalu dekat dengan komunitas,, terutama MUGIERS :) Karena dari sana kita bisa mendapatkan beberapa promo yang berkaitan dengan ujian. Contohnya “Windows 7 Certification Hero”.
Program ini menawarkan kepada 77 orang pertama yang mengikuti ujian MCTS Windows 7 dan lulus, ganjarannya adalah pengembalian exam fee, mendapat T-Shirt, Plakat, dan berkesempatan mengikuti undian yang hadiahnya lumayan. Jadi, rekans sebetulnya bisa tersertifikasi gratis, juga mendapatkan hadiah. Program ini masih berlangsung hingga 18 November. Cek dahulu apakah sudah 77 orang atau belum.
Program lain di antaranya adalah:
- MVP Heroes, biasanya ada waktu-waktunya MVP baru bisa “membagikan” voucher discount untuk exam fee 15% hingga 25% (lumayan).
- MCT Rewards, rekans bisa menghubungi para MCT (Microsoft Certified Trainer) untuk mendapatkan voucher discount exam fee. (lumayan).
- Program-program learning dari Microsoft. Untuk tahun ini, Microsoft menyediakan voucher discount untuk beberapa ujian tertentu, 10% hingga 25%, yang bisa rekans request dan berlaku hingga 31 Desember 2009. (lumayan). Cek di sini atau di sini.
- Program-program dari beberapa perusahaan IT/Training center. Contoh cek di sini.
Akhir kata, “With Great Power, Comes Great Responsibility” - Ben Parker (Spiderman). Menjadi seseorang yang certified, berarti juga orang lain/perusahaan akan mempunyai harapan yang “plus” terhadap rekans. Jadi, pastikan rekans selalu belajar, latihan, dan ter-update dengan teknologi terbaru. Selalu siap terhadap perubahan, rendah hati dan terbuka menghadapi kritik dan saran yang membangun.
Semoga bermanfaat.
Written with Windows Live Writer
Bambang F. Indarto, S.T.
MCP, MCT, MCTS, MCPD, CCNA
Windows 7 dengan segala fitur baru dan kemampuannya menawarkan kepada kita kemudahan dan kecepatan untuk meningkatkan produktivitas dalam bekerja. Dan kita tentu saja juga harus tahu bagaimana menggunakan Windows yang baru ini dengan optimal. salah satu cara untuk mengoptimalkan kerja adalah dengan menggunakan shortcut key. Berdasarkan pengalaman dan pengamatan, penggunaan shortcut key pada keyboard dapat mengurangi delay yang berasal dari penggunaan mouse.
Berikut adalah beberapa shortcut key yang biasa saya gunakan.
+ P Untuk bekerja dengan multiple monitors.
Shortcut ini lebih cepat diakses daripada kita menggunakan tombol Function (karena tiap-tiap pc/notebook, tombol Function-nya berbeda-beda) atau men-setting Display Properties (karena memerlukan beberapa langkah).

+ Shift + Arrow Left/Right Shortcut ini juga sangat berguna bagi rekans yang bekerja dengan multiple monitor (extend mode), terutama trainer/guru 
. Shortcut ini akan memindahkan window ke layar yang lain.
+ Tab Untuk berpindah antar Window disertai efek Aero WinFlip 3D.
Shortcut ini sudah ada sejak Windows Vista dan memerlukan graphic card yang memadai. Tekan Tab untuk “bergerak maju”, Shift+Tab untuk “bergerak mundur”, atau dengan scroll mouse. Rekans bisa memunculkan Window yang diinginkan dengan menempatkan window di paling depan, atau dengan men-klik salah satu window yang ada di stack. Jika rekans tidak nyaman untuk terus menerus menekan tombol
pada saat menggunakan fitur ini, rekans bisa lakukan kombinasi Ctrl +
+ Tab dan selanjutnya tombol arrow atau scroll mouse untuk bergerak maju mundur; atau membuat shortcut nya di taskbar ke %SystemRoot%\system32\rundll32.exe DwmApi #105. Icon-nya bisa rekans ganti dengan koleksi icon yang ada di %SystemRoot%\System32\imageres.dll. Tentu saja, kombinasi Alt + Tab juga masih dapat digunakan.
+ X Untuk mengakses Mobility Center.
Shortcut ini sangat bermanfaat sekali untuk rekans yang mobile dalam hal menkonfigurasi notebook dengan lebih cepat.

+ S Untuk membuat klipping dengan (OneNote Screen Clipping Tool).
Shortcut ini bekerja seperti Snipping Tool, dan bisa diakses jika Office OneNote sudah terinstall di PC.
+ Arrow Left/Right Untuk menempatkan window di kiri/kanan layar.
Shortcut ini memanfaatkan fitur AeroSnap yang nantinya bisa digunakan untuk membandingkan isi window.
+ Arrow Up/Down Untuk maximize dan minimize window.
Selain shortcut ini, rekans juga bisa memanfaatkan
+ M untuk Minimize All Windows,
+ Shift + M untuk kebalikannya (Maximize All),
+ Home untuk meminimize semua window kecuali window yang sedang aktif (mirip seperti fitur AeroShake), dan
+ D untuk show/hide Desktop
+ n (n adalah angka yang dimulai dari 1) Untuk menjalankan aplikasi yang ada di quick launch.
Contoh,
+ 3 akan menjalankan Media Player.
+ Space Bar Untuk membuat semua windows menjadi transparan, sehingga kita bisa melihat isi desktop. Alternatifnya, rekans bisa arahkan pointer mouse ke pojok kanan bawah (lokasi "Show Desktop" di Windows 7.

+ F Untuk mengaktifkan fungsi Search. Shortcut ini sepertinya tidak lagi berguna karena Windows 7 sudah menyediakan fitur Search hampir di semua tempat.
- Ctrl+Scroll Mouse Untuk merubah view pada windows explorer (extra large, small, list view, detail).
- Ctrl+Tab Untuk berpindah Tab di Internet Explorer.
+ E Untuk menjalankan Windows Explorer.
+ = Untuk mengaktifkan magnifier.
+ R Untuk menjalankan aplikasi Run.
+ L Untuk mengunci Computer
+ U Untuk menjalankan Ease of Access Center
+ T Untuk memilih aplikasi-aplikasi yang ada di taskbar.
Semoga bermanfaat.
Written with Windows Live Writer
Bambang F. Indarto, S.T.
MCP, MCT, MCTS, MCPD, CCNA
Fitur ini adalah fitur yang baru tersedia di Windows 7 dan Windows Server 2008 R2. Pada saat ujian, ada beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan fitur ini, jadi saya lakukan research dan coba dituliskan di blog.
BranchCache didesain sebagai solusi untuk masalah-masalah yang biasanya dihadapi pada saat kantor pusat (HQ) terhubung dengan cabang (branch) dengan koneksi WAN. Teknologi WAN – seperti yang kita ketahui bersama – kecepatannya masih kurang memadai sehingga membuat user di cabang mengalami “penderitaan” pada saat mereka ingin melakukan transaksi dengan pusat, atau men-download dokumen yang diperlukan, yang beberapa di antaranya berukuran cukup besar. Di sisi lain, IT profesional yang bekerja di perusahaan tersebut biasanya berjibaku mengurangi atau mengoptimalkan utilisasi WAN link, atau menjadwalkan penggunaan WAN link untuk user.
Berangkat dari masalah tersebut, fitur ini didesain dengan tujuan untuk mengurangi utilisasi WAN link dan meningkatkan produktivitas user dalam perusahaan.
Apa yang dilakukan BranchCache?
Pertama kali client di branch me-request suatu dokumen dari HQ, HQ akan mengirimkan dokumen ID (block hash) ke client. Tentu saja setelah melaui proses otorisasi dan otentikasi. Melalui web service discovery protocol, client akan cek apakah dokumen dengan ID tersebut tersedia di BranchCache. Jika tidak ada, maka dokumen akan di-download dari HQ ke client (melalui WAN link) dan pada saat bersamaan, dokumen tersebut akan masuk (di-cache) ke BranchCache.
Selanjutnya jika client yang sama, atau client lain di branch, me-request dokumen yang sama, dan ternyata ID dokumen nya ditemukan di BranchCache, maka client tersebut akan langsung mendownloadnya dari BranchCache, sehingga tidak perlu menggunakan WAN link ke HQ. Catatan: di server (HQ), jika dokumen tersebut berubah, atau ter-update, ID nya akan berubah.
Bagaimana BranchCache Bekerja?
BranchCache dapat diaplikasikan untuk traffic http/https dan smb, dan hanya berfokus di Intranet. Jadi traffic yg berbasiskan protocol tersebut akan dapat mengoptimalkan fitur ini. contohnya, Sharepoint Service, Training Video (web), Windows Explorer, Robocopy CopyFile, Windows Media Player (WMP), Internet Explorer, Flash, dan Silverlight.
Sumber: Microsoft Technet
BranchCache bisa bekerja dengan dua mode:
- Distributed Cache: Cache didistribusikan di client pc di branch. Client OS adalah Windows 7. Mode ini memberikan keuntungan dalam hal inventasi hardware yang tidak terlalu tinggi.
- Hosted Cache: Cache di-host di server yang ada di branch. Server OS adalah Windows Server 2008 R2. Mode ini memerlukan investasi tambahan (menambah server). Lebih memberikan keuntungan dalam hal ketersediaan cache, karena server jarang dimatikan dan bisa diakses dari LAN yang ber-subnet.
|
|
|
Distributed Cache
|
Hosted Cache
|
| |
Sumber: Microsoft Technet |
Dari demo yang diperlihatkan oleh Devrim Iyigun, Senior Product Manager Client Team, hasil implementasi BranchCache adalah sebagai berikut.
Aktivitas: membuka webpage intranet dan mendownload dokumen MS. Word (sebuah sales order form) sebesar 1.76 MB. Pertama kali melakukan kedua aktivitas, web di-load sempurna setelah menunggu beberapa detik, dan dokumen ter-download dalam waktu 52 detik. Aktivitas yang sama kemudian dilakukan sesudahnya, menggunakan pc lain. hasilnya adalah, web page dapat di load sempurna dengan lebih “instant”, dan dokumen ter-download dalam waktu 1.7 detik.
Konfigurasi Branchcache
Di Windows 7, fitur ini bisa di-enable dan dikonfigurasi dari Group Policy.
Untuk Distributed cache, by default, BranchCache akan mengambil 5% dari kapasitas hard disk untuk cache. Untuk Hosted Cache, yang perlu dilakukan adalah mencantumkan lokasi server-nya.
Di sisi server, yang perlu dilakukan adalah menginstall fitur ini melalui Add Feature yang ada di Server Manager kemudian me-Start servicenya dari Server Manager-Services. Lalu, jika server tersebut akan dijadikan server untuk Hosted Cache, jalankan command prompt dan run perintah sebagai berikut:
netsh branchcache set service mode=HOSTEDSERVER.
Semoga bermanfaat.
Written with Windows Live Writer
Bambang F. Indarto, S.T.
MCP, MCT, MCTS, MCPD, CCNA
"Well, after the WOW WOW that i've been experienced with the Windows 7 Ultimate RTM installed in my Lenovo, I decided to take the 070-680 exam TS: Windows 7. Quite hard questions but thanks God I could pass it well, hopefully that I'm one of the 77. Also thanks to friends that provide me links and materials to study. Some of them are Vista materials, that's ok. And also I want to thanks to my wife and children for the support. Now, in this post, I want to share about other interesting thing about this wonderful operating system from Microsoft.
And that would be Windows 7 Speech Recognition."
Rekans,
Teks di atas adalah sekelumit speech yang saya ucapkan dan ditulis oleh Windows 7 Speech Recognition (SR). Untuk teks yg Bahasa Indonesia ini, saya ketik sendiri, SR nya sy off kan, karena pada saat berucap kata-kata dalam Bahasa Indonesia, hasilnya lain :)
Sangat menyenangkan sekali bisa mencoba Windows 7 SR, karena fitur SR ini memang menjadi perhatian sy sejak sy mencobanya di Windows XP/Office XP. Dan upgrade fiturnya sy bisa katakan sangat banyak. Singkat kata saya langsung list saja.
Untuk Speech Recognition:
- bisa mengenali kata-kata dengan lebih baik. error nya tidak sebanyak dulu (XP).
- bisa melakukan seleksi teks dan untuk kemudian mengganti teks ybs dengan teks lain atau menghapus isi seleksi.
- bisa mengantarkan kursor ke posisi tertentu. Misalnya di depan suatu teks, di belakang suatu teks, ke awal kalimat atau ke akhir kalimat.
- bisa diberikan perintah untuk membuat tanda titik, koma, titik koma, paragraf baru atau membuat baris baru dengan lebih akurat.
Untuk Voice Command:
- Perintah dikenali dengan lebih presisi. Membuka Start Menu dengan perintah "Start". Atau membuka aplikasi dengan (contoh Notepad & Photoshop) "Start Notepad" dan "Start Photoshop"
- Switch ke Windows yang lain.
- Bisa membuka-tutup suatu window dengan mudah (Say: "Close That").
- Menandai desktop icons, tabs, tools dengan nomor ("Show Numbers"), untuk kemudian kita sebutkan nomornya untuk menuju ke icon, tab atau tool yg kita maksud.
- Mengenali perintah double-click dan click. (Contoh: "Double Click Computer).
- Bahkan mengenali right-click :)
- Berinteraksi dengan baik pada saat kita bekerja dengan aplikasi dari Microsoft dan Non-Microsoft.
Note: Saya menghasilkan gambar-gambar pada blog post ini dengan Photoshop-Windows 7 SR, sejak membuat new file, hingga save.
Masih banyak fitur-fitur yang lain yang bisa rekans coba. Untuk memulainya, tinggal klik Windows Button, ketik "Speech Recognition", jangan dikirim ke 9093, tapi ikuti saja wizzardnya.

Seperti biasa, SR memerlukan speaker dan terutama microphone yang kualitasnya bagus. tapi, sebagai info saja, saya mencoba fitur ini dengan speaker dan microphone built-in yang ada di lenovo Y-410 saya. Dan akan lebih baik mungkin jika menggunakan headset dari Sennheiser (maunya, hehehe).
Setelah selesai wizzard, pada desktop akan ada tambahan tool yang bisa diaktif-nonaktifkan dengan klik mouse atau dengan suara.

Akhir kata, selamat menikmati fitur ini. Saking excited-nya, saat ini saya kelihatan seperti orang gila yg berbicara pada pc. Masa depan yang kita liihat di film startrek (yang memberikan perintah ke komputer lewat suara) sepertinya makin nyata. Dan, fitur Veriface bawaan lenovo juga berjalan sangat baik di Windows 7, jadi saya tinggal nongkrong aja di depan pc and walla.... im logged in. :)
Masil berkhayal... "Computer" "Batagor" Wallaaa... Batagor ada di meja saya. hehehe.
Bambang F. Indarto
MCP, MCT, MCTS, MCPD, CCNA
Microsoft Office Speech Recognition adalah salah satu fitur yang menurut saya sangat membanggakan dan memudahkan pengguna ketika bekerja di lingkungan Microsoft Office. Kalau tidak salah, saya sudah bisa menggunakan fitur ini sejak Microsoft Office versi XP. Dengan fitur ini, user dimanjakan dengan fasilitas Voice Command dan Voice Dictation.
Sesuai dengan namanya, Voice Command adalah fitur memberikan instruksi kepada Office. Misalnya, untuk membuat file baru, biasanya kita menggunakan keyboard dengan Ctrl+N stroke, atau menggunakan mouse (klik di menu File, dan pilih New). Voice Command menambahkan opsi memberikan instruksi kepada Office dengan hanya mengatakan“Menu File New” menggunakan microphone. Voice Dictate adalah fitur men-dictate kata-kata menggunakan suara (microphone) dan MS Office akan menuliskannya secara otomatis pada dokumen yang bersangkutan.
Untuk bisa menggunakan fitur ini, ada beberapa langkah yang harus dipenuhi. Secara garis besar, user akan diminta untuk membuat profile suara. Untuk membuat profile suara ini, pastikan microphone yang digunakan adalah microphone yang cukup baik kualitasnya dan lingkungan di sekitar user tidak terlalu berisik (akan lebih baik lagi jika tidak ada suara lain selain suara user yang bersangkutan).
Ok, mari kita mulai. Saya simulasikan di Microsoft Office 2003.
Klik Menu Options – Speech untuk memulai Speech Recognition User Profile Wizard.
Pada wizard ini, pertama, user akan diminta untuk menyesuaikan microphone volume level.
Langkah berikutnya adalah text positioning.
Setelah itu, wizard akan meminta user untuk membuat voice profile. Pembuatannya berbentuk “training suara”; user akan diminta untuk membaca serangkaian kalimat. Langkah ini sebenarnya bisa di-skip, dan Microsoft Office akan me-load profile default. Tapi saya sarankan untuk menyelesaikannya. Memang membutuhkan kesabaran, tapi voice result nya akan sangat akurat.
Ok. Konfigrasi sudah selesai. Microsoft Office akan menampilkan Speech ToolBar. Pada toolbar ini, user bisa menggunakan opsi Voice Command dan mulai memberikan instruksi-instruksi kepada Office, atau menggunakan Dictation untuk mendikte teks kepada Office.

Cheers,
Semoga bermanfaat, selamat mencoba.
Written with Windows Live Writer
Styles, di dalam keluarga Microsoft Office, dapat digunakan untuk merencanakan dokumen yang akan kita buat. Jika ada rekan-rekan sedang menyusun dokumen yang lumayan besar dan terstruktur, seperti buku, skripsi, thesis, report, laporan, dan lain-lain, maka rekan-rekan dapat menggunakan styles untuk merencanakan dan "mempermudah hidup" :)
Sebagai contoh kasus, misalnya kita sedang dalam proses pengerjaan penulisan tugas akhir. Berikut adalah bagaimana merencanakan dan menyusun dokumen dengan menggunakan styles.
A. Styles dapat digunakan untuk menformat dokumen dengan lebih cepat dan teratur.
Yang dimaksud di sini adalah, jika kita sedang menulis laporan, biasanya ada beberapa bagian dari teks yang kita tuliskan akan memiliki format yang sama. Misalnya, judul bab (Align: Center, FontStyle: Bold, Size: 14, AllCaps), atau sub-bab (buletted: 2 level, FontStyle: Bold), atau sub-sub-bab (buletted: 3 level, FontStyle: Bold), termasuk indentation-nya , seperti di gambar (tidak mencantumkan konten).

Format-format itu bisa kita rekam di dalam styles untuk kita gunakan kembali nantinya. Untuk merekamnya, bisa dengan mengikuti langkah simple sebagai berikut:
Sorot teks yang sudah terformat, lalu klik di toolbar style, ketikkan nama style yang diinginkan, misalnya "bambangBab" untuk judul bab, "bambangSub1 untuk sub bab level 1.
Sesudah melakukan proses perekaman styles tersebut, styles yang sudah direkam dapat dilihat di list of styles dengan mengklik drop down arrow pada styles toolbar.
Untuk selanjutnya, jika rekan ingin menggunakan styles tersebut di bagian lain pada dokumen laporan, tinggal sorot saja teks-nya dan pilih style yang diinginkan. Misalnya untuk point ke dua di bab pendahuluan.
Khusus untuk numberring, di beberapa kasus, perlu ada sedikit penyesuaian untuk merestart kembali numberring level satu nya. (Karena ada masukan dari siswa dan rekan bahwa kadang-kadang, pada saat memasuki bab 2 atau bab 3, numberring level satu nya tidak restart, malah melanjutkan numberring dari bab 1), seperti gambar di bawah ini.

Penyesuaian yang akan dilakukan, bisa dengan mengikuti langkah berikut:
- klik ganda di numberring (angka 1.3)
- klik opsi restart numberring dan klik di customize button.
- ganti number level ke level 1, set start level 1 numberring ke 2, dan pilih opsi this point forward.
B. Styles sudah direkam dapat digunakan untuk keperluan lain.
Keperluan yang lain dalam hal ini contohnya adalah pembuatan Table of Content (TOC) atau Index. Sebagai contoh, kita akan lihat pembuatan "Instant" TOC.
- Klik di menu Insert - Reference - Index and Tables
- Pilih tab Table of Content
- Pilih Tab Leader, Formats, dan Level TOC yang ingin ditampilkan.
- Klik tombol Options.
- Hapus angka level TOC yang tersedia, dan atur level TOC kita sendiri sesuai dengan level Styles yang telah kita buat.
- Klik OK, dan Klik OK untuk mengakhiri kotak dialog References.
- Walla... TOC sudah jadi!

Jika misalnya rekan-rekan ingin menambahkan beberapa items ke dalam daftar isi tersebut (misalnya halaman daftar isi itu sendiri, halaman untuk abstraksi, kata pengantar, lembar pengesahan, daftar gambar dan lain sebagainya), yang perlu rekan-rekan lakukan hanya menyorot judul-judulnya dan set style nya (dalam case ini "bambangJudul). Setelah itu... tinggal klik kanan TOC nya dan pilih opsi Update Entire TOC.
Walla.... Rekan-rekan tidak perlu lagi mengetik sendiri TOC laporan nya.
Semoga bermanfaat.
Written with Windows Live Writer.
Dalam satu minggu ini, satu teman dan satu famili saya mengeluh karena mereka mengalami problem dengan OS nya, kemudian diinstall ulang, dan dokumen office nya tersapu full format. Sayang sekali memang. Tapi sebetulnya hal seperti itu bisa dihindari. Apalagi mereka ini mempartisi hard disk nya. So, saya sarankan kepada mereka, untuk membiasakan diri mengkonfigurasi office supaya pada saat mereka menyimpan dokumen office, dokumen itu tidak disimpan di lokasi defaultnya (yang tentu saja di partisi yang sama dengan partisi OS).
Biasanya, MS Office menempatkan dokumen-dokumen di folder My Documents (per user) sebagai default locationnya. Berikut adalah cara untuk memindahkan default location.
Jika masih menggunakan MS Office 2003:
- Untuk MS Word, klik di menu Tools - Option. Pilih di opsi tab File Location.
- Untuk MS Excel, klik di menu Tools - Option. Pilih di opsi tab General.
- Untuk MS PowerPoint, klik di menu Tools - Option. Pilih di opsi tab Save.
- Untuk MS Access, klik di menu Tools - Option. Pilih di opsi tab General.
- Untuk MS Publisher, klik di menu Tools - Option. Pilih di opsi tab General.
- Ubah Default File Location untuk Dokumen dengan mem-browse ke folder baru. Sebaiknya folder tersebut berada di partisi yang selain dari partisi OS (partisi D atau E, jika partisi OS nya ada di C).
Jika menggunakan MS Office 2007:
- Klik di Office button, klik di Options (Word Options, Excel Options, dll)
- Pilih opsi tabs Save
- Ubah Default File Location untuk Dokumen dengan mem-browse ke folder baru. Sebaiknya folder tersebut berada di partisi yang selain dari partisi OS (partisi D atau E, jika partisi OS nya ada di C).
Cheers.
Semoga bermanfaat.
Entah kenapa, baru di sesi training kali ini saya mendapati siswa (beberapa siswa sekaligus) yang menemui kesulitan untuk menginstall SQL Server 2000 di pc ber-OS Windows XP dan Windows 2000. Versi SQL server yang lumayan berumur, tapi ternyata masih banyak yang pakai, dan ternyata sesi training nya masih ada. 
Ok... pesan errornya adalah... “A previous program installation created pending file operations on
the installation machine. You must restart the computer before running
setup.”
Well… Pada kasus ini, logikanya adalah... ada proses installasi aplikasi sebelumnya yang belum terselesaikan dengan proses restart. Saya minta siswa untuk meretart pc-nya. Tapi, tetap masih tidak bisa melakukan installasi SQL Server dengan problem yang sama.
Kalau begitu, berarti kemungkinan lain adalah, SQl Server mendeteksi rekaman di registry bahwa ada proses installasi yang ter-pending. Solusi untuk ini adalah, menghapus entry registry yang merujuk ke situ.
- Restart PC.
- Klik Start, pilih Run.
- Ketik: Regedit, Click OK.
NOTE: BackUp registry terlebih dahulu dengan klik di File menu, kemudian klik Export. (atau Export Registry File dari Registry menu di Windows 2000).
- Di Registry Editor, buka registry subkey berikut: HKEY_LOCAL_MACHINE\SYSTEM\CurrentControlSet\Control\Session Manager
- Di Panel sebelah kanan, klik kanan entry PendingFileRenameOperations. Pilih Delete.
- Pada saat Confirm Value Delete, klik Yes.
- Sekarang bisa dicoba untuk melakukan kembali installasi SQL Server 2000-nya. Biasanya berhasil. Kalo masih belum bisa, di-restart dulu.
Cheers.
Posting pertama dengan Bahasa indonesia. Saya mau share saja beberapa pengalaman saya sebagai trainer.
Menjadi trainer itu gampang-gampang susah. Gampang karena ya, pertama, semua orang bisa menjadi trainer, dan kedua pekerjaanya cenderung hanya menginstruksikan dan "berbicara" (mostly) saja. Susah.. karena trainer akan menghadapi berbagai macam orang yang mewakili berbagai macam kepribadian, harapan, dan masalah. Sepertinya, hal ini lah yang membuat orang tidak memilih menjadi trainer. Saya sering mendapatkan pendapat, "berbicara di depan banyak orang itu membuat perut sakit", "lutut bergetar", "grogi" atau "isi kepala hilang.. blank!"
Kalau tentang menjadi trainer itu gampang dan semua orang bisa menjadi trainer, saya akan buat itu sebagai pengumuman saja. Karena memang begitulah adanya. Jadi, kalau seseorang tidak mau jadi trainer, itu cuma masalah mau atau tidak saja.
Nah, untuk orang yang mau jadi trainer, atau yang memandang bahwa menjadi trainer itu sulit, saya akan share sesuatu. Syukur alhamdulillah saya dipilihkan oleh Allah SWT seorang istri yg berlatar belakang psikologi, jadi sedikit banyak, saya ada referensi. :)
Issue pertama, seorang trainer tentu saja akan lebih banyak berhadapan dengan manusia/orang lain. Banyak orang yang berkecimpung di dunia IT, karena mereka memiliki "long relationship" dengan mesin (daripada dengan teman atau bahkan pasangannya.. mungkin, he he he) cenderung memperlakukan siswa seperti perlakuan mereka terhadap mesin. Atau menganggap siswa memiki kemampuan yang (hampir) sama dengan mesin. Contoh kasus, kita mungkin kesal kalo sang siswa tidak ingat tentang apa yang sudah dibahas di bab sebelumnya. Atau... menjadi frustasi karena siswa "ngga ngerti-ngerti". Atau, tiba-tiba siswa mencoba sesuatu yang baru, memodifikasi sesi lab, dan hasilnya adalah error dan waktu training habis untuk ngutak-ngatik sesi lab itu.
Untuk issue yang ini, tentu saja kita perlu ingat bahwa komponennya manusia dan mesin itu beda. Prosesor dan memorinya manusia dengan mesin itu beda. Manusia mudah lupa, mesin tidak. Manusia gampang bosan, mesin tidak. Manusia adalah mahkluk kreatif, mesin tidak. Manusia punya imajinasi, mesin tidak. Mesin bisa menyimpan banyak informasi secara instant dan mengakses informasi itu dengan cepat, manusia membutuhkan waktu dan pengulangan untuk bisa menyimpan informasi untuk waktu yang lama. Mesin akan langsung memberikan informasi pada saat ada permintaan, sedangkan manusia... biasanya akan lihat ke langit-langit dulu, barangkali informasi yang diminta ada di sana, he he..
Kuncinya, untuk menjadi trainer itu adalah "mengerti manusia".
Issue kedua, setelah kita menyadari bahwa hubungan trainers dengan trainee adalah human relationship, rasanya tinggal bagaimana kita dapat memberikan instruksi, berbicara, atau berkomunikasi dengan baik (sehubungan dengan kerjaannya trainer). Saya akan coba ketengahkan beberapa tips, sesuai dengan pengalaman dan beberapa referensi.
Tips No.1: Jadilah murid yang terbaik. Yang dimaksud adalah, setidaknya kita pernah mengalami apa yang akan dialami oleh calon siswa kita. Contohnya, jika kita akan memberikan training sertifikasi, setidaknya kita sudah pernah mengalami trainingnya sampai ke ujiannya (dan lulus). Trainers akan lebih pede dan tahu apa yang akan dialami/dilewati oleh siswa. Pengalaman itu bisa di-share. Sewaktu saya diminta memberikan training di salah satu Cisco Academy, saya langsung ikut salah satu kelas-nya, belajar, dan mengerjakan semua test nya. Memang berat, karena ujiannya banyak sekali, tapi berbagi pengalaman rasanya memang lebih baik daripada berbagi knowledge.
Tips No. 2: Kenali siswa. Dalam hal ini, selain kita perlu mengenal nama dan latar belakang mereka, yang lebih penting lagi adalah mengetahui motivasi mereka dalam menjalani training. Apa saja harapan (expectation) mereka begitu mereka menyelesaikan training. Dengan mengenali motivasi dan goal mereka, trainers akan lebih bisa mengontrol situasi dan mensinkronkan materi dan harapan.
Tips No. 3: Contoh dan latar belakang munculnya suatu konsep adalah lebih penting daripada konsepnya itu sendiri. Pada saat menerangkan konsep, usahakan jangan mengenalkan nama konsepnya dulu, tapi akan lebih baik berangkat dari contoh masalah; kenapa kita perlu si "konsep" itu. Dan kita juga bisa mulai menerangkan mengenai konsep itu dengan analogi-analogi yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Misalnya tentang Web Service. Saya pernah membahas mengenai konsep ini di kelas dengan menganalogikannya dengan laundry service. Daripada kita nyuci sendiri, lebih baik kirim aja pakaian ke laundry, kita tinggal ambil hasilnya. Daripada kita buat function sendiri, lebih baik cari aja service yang menyediakan function itu di Internet, kirim value yang akan diproses, dan.. walla.. kita dapat hasilnya.
Tips No. 4: Be Updated. Selalu update diri. Teknologi baru selalu datang. Selalu terhubungan dengan sumber pengetahuan yang ter-update, komunitas, dan industri. Kalau ada kesempatan untuk berkecimpung di industri.. just grab it. Hal itu akan terus menambah pengalaman kita.
Tips No. 5: Remember, No Body is Perfect. Trainers pun bukan personal yang tahu dan bisa segalanya. Selalu rendah hati. Ada saat-saat dimana kita belum bisa memberikan solusi untuk apa-apa yang ditanyakan siswa, atau belum bisa menjawab pertanyaan siswa. Apalagi kalau kebetulan kita adalah trainer yang pengalaman industrinya sedikit (seperti saya) atau fresh graduate yang kebetulan pengalaman men-training dan industrinya belum banyak. Tidak terlalu bermasalah kalau kita mengakui bahwa kita belum memiliki solusi/jawabannya (asal jangan sering-sering). Jangan posisikan diri sebagai problem solver, tapi posisikan diri lebih cenderung ke fasilitator. Gali pengetahuan dan pengalaman siswa yang lain. Apalagi kalau siswanya kebetulan seorang profesional di bidangnya masing-masing. Banyak keuntungan jika kita memposisikan diri sebagai fasilitator. Pertama, siswa tidak akan terlalu tergantung kepada trainers. Daripada kita memberikan solusi secara langsung, lebih baik kita bimbing mereka tentang bagaimana mencari solusi. Kedua, mind-sharing akan memperkaya semua civitas kelas. Termasuk trainer-nya.
Kedah, 27 November 2008.