Satu hal yang menurut saya hilang dari Windows 7 adalah mekanisme menghentikan putaran hard disk external (safe power-off) pada saat saya me-safe remove hard disk tersebut. Tidak seperti di Windows XP, yang pada saat me-safe remove hard disk external akan menghentikan aktifitas hard disk dan juga menghentikan putaran hard disk (safe power off).
Sebelumnya saya berpikir normal-normal saja dan tidak terlalu memperhatikan kalau ternyata hard disk yang sudah di safe-remove ternyata power-nya masih on. Tapi semenjak Free Agent 250GB saya menunjukkan gejala kerusakan – lambat/sulit membaca file-file di dalamnya (karena isinya MOC dan sering pasang-lepas di pc siswa untuk mencopy vhd) dan akhirnya mati total (R.I.P), saya berasumsi, hal ini bisa jadi masalah. Jadi, saya coba beberapa cara untuk memastikan bahwa memang safe remove hard disk external itu memang aman.
Dari beberapa cara yang ditemukan, berikut ini adalah langkah-langkah yang saya asumsikan paling aman, karena akan me-remove dan menghentikan putaran hard disk.
- Download aplikasi Sdparm.exe.
- Download aplikasi Unlocker.exe.
Unlocker ini akan menghentikan processes yang mengakses hard disk external, bisa dijalankan jika pada saat safe remove ternyata Windows tidak bisa me-remove nya.
- Tempatkan Sdparm.exe di folder tertentu, misalnya di C:\Sdparm atau di C:\ atau di D:\ (jika ada partisi lain selain C:).
- Jalankan perintah Run atau Command Prompt.
- Jalankan perintah berikut ini: sdparm –C=stop [device], ganti [device] paramater dengan drive letter hard disk external.
Contoh:
sdparm –C=stop H: - Setelah menjalankan perintah tadi, hard disk external akan menghentikan putarannya (spinning down).
- NOTE: Jika sudah menjalankan perintah tadi dan hard disk sudah spin down, jangan melakukan “Safe Remove” dari taskbar, karena kalau kita melakukan itu, hard disk akan spin up lagi (power on lagi).
Untuk lebih mudahnya, karena mekanisme ini akan dilakukan berulang-ulang, kita bisa membuat file batch untuk otomasinya.
- Jalankan Notepad.
- Ketikkan perintah untuk men-spin down hard disk tadi, sdparm –C=stop H: pause
- Simpan file-nya di folder yang sama dengan aplikasi Sdparm.exe dengan extension .bat (misalnya SpinDownEHD.bat).
- Jalankan batch ini dengan permission Administrator (Run As Administrator).
Sementara ini, file batch tadi adalah cara alternatif yang saya lakukan (sambil menunggu barangkali ada patch dari Microsoft) dan berjalan baik di Transcend StoreJet 320GB dan Fujitsu 160GB.
Semoga bermanfaat.
Written with Windows Live Writer
Bambang F. Indarto, S.T.
MCT, MCTS, MCPD, MCAS, CCNA
Di sela-sela tumpukan report yang harus di-submit, teringat sesuatu yang ingin di-share di blog.
Hari Kamis, 25 Februari 2010 lalu, rekan-rekan MCT mendapatkan kesempatan menghadiri MCT Round Table Meeting di kantor Microsoft Indonesia. Pertemuan itu mendatangkan Mr. Lutz Ziob, General Manager for Microsoft LearningWorldwide dan Mr. Sukhdev Singh dari MS Learning Asia Pasifik . Merupakan suatu pertemuan yang sangat bermanfaat karena membahas tentang hal-hal yang sekiranya menjadi hambatan bagi para MCT dan hal-hal yang bisa dikembangkan di masa yang akan datang. Di pertemuan ini juga hadir MCT yang senior (terbukti dari MCP ID nya, hehehe), Mas Yudhistira, yang dari beliau ini trainer-trainer baru bisa mendapatkan sharing pengalaman yang sangat berharga.
Beberapa hal yang bisa saya sharing di sini antara lain:
- Pertambahan trainer dari sisi kuantitas dan kualitas ternyata mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap “respon baik” para pengguna teknologi Microsoft. So to all MCT’s, lets keep up our good and professional work.
- Track sertifikasi di Microsoft yang baru (New Generation of Microsoft Certification) sebenarnya sudah disederhanakan, dan path-nya juga tidak se-panjang generasi lama. Hanya saja, variasinya bertambah, seiring dengan bertambahnya teknologi baru. Secara global, sertifikasi generasi baru dibagi menjadi 3 kelompok:
a. Di entry level, dikenal dengan Technology Specialist, ditujukan untuk personal yang mendalami suatu teknologi Microsoft.
b. Di level menengah, dikenal dengan Professional Certification, untuk memvalidasi skill yang komprehensive yang diperlukan dalam pekerjaan. Misalnya, untuk developer, maka Professional Certificationnya akan meliputi database, framework pemrograman dan penguasaan tool (Contoh: Visual Studio).
c. Level yang paling tinggi adalah Master, yang mengidentifikasikan individu dengan skill tinggi untuk Microsoft Platform.
Ada kabar yang mungkin cukup menggembirakan untuk siswa/mahasiswa. Microsoft sedang mencoba menyediakan sertifikasi level assosiate. Mengenai details-nya, kita tunggu saja. Moga-moga lebih bersahabat dalam hal exam fee.
- Beberapa track sertifikasi dan materi training baru yang sedang dalam “penggodokan” antara lain yang berkaitan dengan server virtualization dan desktop virtualization. (monggo daftar training, hehehe).
- Pertambahan fasilitas untuk trainer (selain yang sudah ada sekarang: Technet Subscription, Camtasia Studio, Deep Discount untuk buku-buku Microsoft Press dan O’Reily dan lain-lain). Monggo yang ingin menjadi MCT, you’re all welcome.
- Selain Digital MOC, di masa mendatang juga akan tersedia MOC Labs Online.
Ada satu hal yang menurut saya sangat menarik yang ingin saya sharing ke rekan sekalian. Microsoft memiliki beberapa sumber untuk mendukung pembelajaran teknologi Microsoft. Salah satunya adalah Courseware Library. Courseware Library ini bisa dikatakan seperti training kit yang berisi topik-topik training tertentu, yang lebih spesifik daripada MOC dan bisa di-custom. Yang berpartisipasi mengupdate/menambah materi di Courseware library ini bisa berasal dari suatu organisasi, atau bahkan personal. Tentu saja, pihak-pihak yang ingin mempergunakan materi yang ada di sana perlu membelinya.
Nah, saya hubungkan dengan melihat apa yang ada di komunitas ini, bahwa di komunitas ini banyak penulis-penulis buku yang handal dan masih muda. Terbukti dengan bermunculannya e-book baru. Kesempatan yang ada adalah, rekan-rekan yang bisa menulis buku dengan baik, sebetulnya punya kesempatan untuk menempatkan materi-materi yang mereka buat di Courseware Library, dan mendapatkan fee dari hasil penjualan materi tersebut. Lumayan. Dan … Courseware Library ditulis dengan berbagai bahasa. :)
Berikut adalah dokumentasinya:
Sementara ini dulu, moga-moga bermanfaat dan bisa menjadi penambah semangat untuk terus berkarya. :)
Kembali ke rutinitas.
Written with Windows Live Writer
Bambang F. Indarto, S.T.
MCT, MCTS, MCPD, MCAS, CCNA
Math Input panel adalah salah satu tool yang terintegrasi di Windows 7. Tool ini memungkinkan user-user Windows 7, terutama siswa, dan kalangan pendidikan hingga tingkat atas, untuk menuliskan rumus atau pernyataan matematika, kimia atau fisika secara natural.
Berikut adalah beberapa screenshot-nya

Tool ini bisa diakses dari Accessories folder.
Setelah Math Input Panel ini muncul, langkah berikutnya tinggal menuliskan rumus yang diinginkan. Untuk menuliskan rumus, rekan bisa menggunakan mouse, yang cukup bagus tentunya, atau menggunakan digitizer external. Dan akan lebih ok lagi kalo rekan memiliki monitor touchscreen atau notebook dengan touchscreen (tablet pc), seperti yang saya demokan pada Fujitsu ini.
Output dari Math Input Panel ini dapat digunakan di aplikasi-aplikasi yang men-support MathML: Mathematical MarkUp Language. Info mengenai MathML ini bisa didapat di sini. Aplikasi-aplikasi yang men-support MathML antara lain MS Office 2007, MS Office 2010, aplikasi office dari OpenOffice.org, atau aplikasi matematika lain, misalnya Mathematica.
Menggunakan Math Input Panel
Rekans bisa langsung menuliskan formula di area “Write math here'”, dan jika diperlukan ada beberapa tools dari menu yang ada di sebelah kanan.

Sesudah selesai, rekans bisa klik di tombol Insert (formula akan masuk ke clipboard) kemudian paste di MS Word 2007, misalnya.
Jika ada kesalahan “interpretasi”, rekans pun bisa melakukan koreksi.
Cara pertama, rekans bisa klik tombol Erase, kemudian klik/tap di karakter yang akan dikoreksi, kemudian tuliskan ulang karakter yang diinginkan.
Cara kedua, klik tombol Select and Correct, kemudian klik (atau buat lingkaran) di karakter yang akan dikoreksi. Secara otomatis, Math Input Panel akan memberikan beberapa alternatif.
Selamat mencoba, semoga bermanfaat.
Written with Windows Live Writer
Bambang F. Indarto, S.T.
MCT, MCTS, MCPD, MCAS, CCNA
Beberapa hari lalu, sesudah menginstall laptop dengan Windows 7, saya mencoba untuk melakukan konfigurasi router melalui console portnya. Tetapi ternyata, aplikasi bawaan Windows untuk melakukan komunikasi/remote ke mesin lain, HypertTerminal, tidak ada di tempatnya. Saya coba cari shortcut/aplikasi-nya pun tidak ada.
Setelah cari sana sini, akhirnya ada. HyperTerminal Link.
Tinggal ekstrak saja, ada dua file, dan jalankan hyperterm.exe.
Semoga bermanfaat,
Written with Windows Live Writer
Bambang F. Indarto, S.T.
MCT, MCTS, MCPD, MCAS, CCNA
Suatu pertanyaan yang cukup menggelitik, apakah itu TTL, terlontar dalam kelas. :)
Sesuai dengan saran pak Firstman, saya coba bahas di blog saja.
Sesuai dengan namanya, TTL (waktu untuk hidup) adalah suatu nilai waktu yang disematkan dalam paket data yang dikirimkan melalui jaringan TCP/IP untuk menyatakan berapa lama paket tersebut bisa beredar/berjalan di dalam jaringan. Nilai tersebut akan memberitahukan kepada router apakah paket tersebut harus diteruskan ke router selajutnya (next hop router) atau di-discard.
Sebagai contoh, seperti yang kita mungkin pernah alami, ada waktunya ketika kita sedang menuju suatu tujuan yang sebetulnya biasa (misalnya kantor), tiba-tiba macet, lalu kita coba jalan lain, eh malah berputar-putar tidak keruan. Ketemu orang pertama buat nanya arah, kita ikuti. Pas ketemu orang kedua, kita tanya, kita ikuti arahnya, malah ketemu orang yang pertama kita tanya. Paket data pun seperti itu. Paket data yang kita kirimkan ke Google (misalnya) akan melewati beberapa perlatan jaringan (switches dan routers). Dengan kondisi tertentu, apakah itu ada bagian jaringan yang terputus, atau traffic-nya macet, sehingga dia akan mengalir melalui jalan lain… tapi.. eh… malah berputar-putar tanpa pernah sampai ke tujuannya. Istilahnya Routing Loop atau Switching Loop. Loop ini kalo dibiarkan begitu saja, akan menyebabkan network kita terbebani (Bandwidth untuk traffic lain berkurang).
Nah, dari sekian banyak solusi untuk mencegah terbebaninya network dengan routing/switching loop, maka paket itu suatu saat harus di-discard, dan pengirim data harus dikasih tahu apabila memang paket tersebut di-discard di tengah jalan. Cara router men-discard paket adalah dengan melihat nilai TTL-nya. Nilai TTL ini … by default … sudah ditentukan oleh system operasi mesin pengirim, besarnya 8 bit, disematkan di header paket, dan akan dikurangi satu apabila paket data mencapai suatu router lain (next hop router). Jika suatu router mendapatkan angka TTL = 0 (nol), maka router tersebut akan men-discard paket dan mengirimkan paket ICMP ke pengirim data (Request Time Out atau Unreachable).
Contoh Default TTL berdasarkan OS:

Kita biasa menggunakan perintah Ping dan TraceRoute untuk men-test keberadaan suatu mesin atau melacak bagaimana suatu rute menuju suatu mesin. Kedua perintah tersebut menggunakan/memperlihatkan nilai TTL.
Reply from 64.233.181.104: bytes=32 time=1653ms TTL=52
Teks di atas adalah hasil reply dari mesin saya ke google. TTL = 52. Artinya, pada saat mencapai mesin saya, nilai TTL nya tinggal 52. Kalau saya lakukan perintah standard tracert dengan 30 hops, hasilnya adalah 12 hops. Informasi yang bisa kita peroleh antara lain:
- Karena TTL masih lebih besar dari hops, maka saya masih bisa berkomunikasi dengan google.
- Total TTL adalah 64, 52+12. Saya bisa memperkirakan Google di hosting di OS apa. :)
Jika diperlukan, default TTL ini bisa dirubah. Caranya, disesuaikan dengan OS masing-masing. Untuk di Microsoft OS, biasanya bisa disetting lewat registry. Atau, misalnya jika kita mendevelop suatu aplikasi yang bisa mengirimkan data ke suatu tujuan tertentu, tapi ingin memastikan bahwa data tersebut tidak beredar terlalu lama di jaringan, maka kita bisa membuat code untuk merubah registry sistem operasi untuk nilai TTL yang diinginkan.
Semoga bermanfaat.
Written with Windows Live Writer
Bambang F. Indarto, S.T.
MCT, MCTS, MCPD, MCAS, CCNA
Salah satu manfaat dari keberhasilan seseorang yang mendapatkan sertifikasi IT (dalam hal ini Microsoft Certification) adalah membantu seseorang tersebut untuk memilih dan fokus pada teknologi yang ingin dipelajari/didalami/diterapkan, dengan latar belakang bahwa dunia IT itu memang luas. Apalagi sekarang sudah ada “Era Perdagangan Bebas” (dengan Cina dan beberapa negara Eropa) sehingga, kefokusan itu memang merupakan suatu nilai plus.
Tetapi, ternyata masih banyak orang yang malah bingung dan bertanya, kira-kira kalo yang bersangkutan memilih untuk ikut dalam suatu track sertifikasi, nantinya dia akan bekerja atau berkarir dimana. Terutama (mungkin) pada fresh graduate, karena, ya, mereka memang sedang dalam masa transisi (dari lingkungan belajar ke lingkungan professional). Apalagi dengan mempertimbangkan nilai dalam bentuk uang yang akan mereka keluarkan pada saat ujian.
Jadi, melalui tulisan ini, saya ingin berbagi cerita (terutama dari rekan dan siswa saya) dan beberapa karir yang bisa dikembangkan setelah kita mendapatkan sertifikasi. Ada dua bagian besar, yaitu bekerja di kantor dan menjadi bekerja independent.
Yang pertama adalah bekerja di kantor. Untuk karir yang pertama ini, mungkin saya tidak akan bicara banyak. Dari kabar teman dan siswa saya, setidaknya, dengan adanya sertifikasi di tangan mereka, mereka menjadi lebih fokus, expert, mendapat penghargaan dari atasan dan rekan kerja, dan tentu saja… job dan penghasilan meningkat. Setiap kali saya membuka suatu sesi training, saya biasa melakukan screening goal. Setidaknya lebih dari 50% peserta mengatakan kalau mereka ingin naik gaji. Dari siswa-siswa saya yang saya training persis sebelum mereka lulus, sekiranya lebih dari 80% dari mereka mengatakan bahwa mereka selalu mendapatkan panggilan interview. Walaupun pada akhirnya mereka sharing ke saya bahwa pertanyaan interview-nya berat dan cenderung ke arah penyelesaian kasus. Tapi ya, hal tersebut sudah saya kemukakan sebelumnya, dan bahwa mereka bisa mempelajari kasus-kasus dari komunitas atau forum.
Ada dua cerita dari temannya teman saya. Yang satu seorang perempuan, yang fokus di MS PowerPoint 2007, bersertifikasi MCAS Powerpoint 2007. Beliau bekerja di suatu perusahaan konsultan, yang akhirnya membantu atasan dan rekannya dalam mendevelop slide presentasi yang professional. Sayangnya,
beliau tidak share nilai gajinya. Informasi lain, beliau seorang laki-laki, masih muda, sekitar 25 tahun yang dengan bergelar MCDST Windows XP, berhasil masuk dan bekerja di salah satu perusahaan IT di Singapura. Tugasnya sebagai HelpDesk Windows Client. Pekerjaannya mungkin bisa tertebak, membantu rekan yang lain yang tidak melek IT: troubleshooting, membasmi virus, installasi driver, beliau buka angka gaji: di atas 11++ juta.
Di luar profesi bekerja di kantor, tentu saja bekerja secara independent. Well guys, saya rasa opsi ini lebih baik dipilih daripada bekerja sebagai karyawan outsource. Dari segi penghasilan pun sebetulnya tidak kalah dari rekan-rekan yang bekerja di kantor.
Pilihan jasa yang bisa ditawarkan… banyak… seluas bidang ilmu yang ada di IT. Kata kuncinya biasanya adalah konsultan. Kunci sukses bekerja secara independent menurut saya adalah fokus, kembangkan ide-ide dan rajin-rajin menawarkan ide tersebut (selain kunci sukses positif lain tentunya).
Kalau senang di bidang Desktop Engineer atau IT HelpDesk, kita bisa menawarkan jasa tersebut. Misalnya, menyiapkan suatu custom sistem desktop yang siap pakai (oleh karyawan). Sebagai contoh, ada rekan saya yang bidang usahanya adalah menyediakan PC beserta OS dan aplikasi-aplikasi yang diperlukan di lab sekolah tingkat menengah, yang termasuk di dalamnya adalah aplikasi remote desktop sehingga guru bisa melakukan presentasi via layar monitor masing-masing siswa. Atau, masih di bidang pendidikan, kita bisa mendevelop materi-materi pelajaran. Barangkali saja salah satu pembaca posting ini punya ide untuk bisa mendevelop MOC atau Course Library dalam bahasa Indonesia :)
Di bidang development dan system, mungkin sudah banyak yang fasih. Ya, intinya, ide. Kita bisa membuat custom dan customer based software. Sebagai contoh, ada rekan yang membuat aplikasi HRIS (Human Resource Information System) versi web-based, karena ada perusahaan yang berencana me-migrasi OS client dari MS ke Mac. Jadi, Aplikasi yg OS based bisa terkena kendala compatiblity. Atau.. baru-baru ini saya baru mempelajari teknologi Sharepoint. Bukan teknologi baru, sudah diterapkan di perusahaan-perusahaan besar sekelas PT Telkom, Chevron dan Freeport, tapi menurut saya masih wah. Suatu teknologi web based (.NET based) yang bisa dipergunakan untuk menyediakan portal, komunikasi, kolaborasi antar karyawan suatu perusahaan. Jadi ada ide untuk menawarkan pembuatan Sharepoint Server Portal ke beberapa klien. He he he..
Satu bidang yang saya sukai dan prospeknya sangat bagus adalah bidang training IT dan EO. Saya ingin sharing tentang bidang ini. Rekans bisa berada di posisi sebagai trainer atau penyedia training. Kalau berada di posisi trainer, tentu saja requirementnya harus bisa fokus dalam bidang tertentu, bisa belajar dengan cepat, dan memiliki teknik komunikasi yang baik. Akan lebih baik lagi kalau sebelumnya sudah pernah bekerja di bidangnya atau pernah mengerjakan project yang berkaitan dengan bidangnya.
Berada di posisi penyedia training pun tidak kalah menariknya. Kita bisa pilih untuk mendirikan training center. Investasi memang lumayan tinggi. Karena harus memiliki ijin, SDM, dan persetujuan mitra (contohnya sertifikasi Microsoft Partner).
Opsi lainnya, menyediakan custom training (training++) atau EO (Event Organizer). Sebagai contoh, rekan bisa lihat Native-Enterprise, yang menyediakan custom training dengan menyediakan tempat training di Guest House yang sangat nyaman. Respon dari peserta trainingnya pun sangat positif.
Contoh lain, EO, bisa lihat rekan-rekan yang mengadakan workshop singkat satu hingga tiga hari mengenai beberapa topik yang mungkin dirasakan sangat sederhana: “Membuat presentasi professional full multimedia dengan PowerPoint”, “Panduan analisis finansial dengan Excel”, “Gang of Four Design Pattern with VB or C#”, dan lain-lain, yang bisa dibandrol dengan harga 1 hingga 5 juta per-peserta. Saya juga ingin sharing tentang tempat saya bekerja beberapa tahun yang lalu. Dengan ide “Advanced Financial Analysis with Microsoft Excel 2007”, kita membuat event workshop 2 hari di salah satu hotel di Bali. Sasaran peserta adalah professional di perusahaan minyak dan gas. Dibandrol dengan harga 20jt++, peserta yang datang lebih dari 20 orang dari berbagai negara. Tentu saja… kita mendatangkan trainer yang bersertifikasi.
Akhir dari tulisan ini, semoga rekan-rekan bisa memutuskan untuk punya satu atau mungkin beberapa kefokusan dan mensertifikasinya. Selain dari cerita-cerita tentang karir yang ada di atas, rekans juga bisa melihat Orang-orang yang sudah MVP dan apa saja yang telah mereka kerjakan/capai. Kenapa saya sediakan link ke MVP, karena mereka dinilai sudah berhasil di pekerjaan dan sebagai independent person, sehingga bisa dijadikan ide untuk kita.
Kembangkan terus ide rekan-rekan.
Semoga bermanfaat,
Written with Windows Live Writer
Bambang F. Indarto, S.T.
MCT, MCTS, MCPD, MCAS, CCNA
Sebelum saya lanjutkan, mohon maaf jika judulnya mungkin kurang tepat, karena saya sendiri merasa demikian. Tapi tetap saya pasang juga karena judul harus yang eye-catching (katanya).
Tulisan ini sekedar menyambung apa yang sudah dituliskan Suhu Aris Lesmana, beliau sudah menyampaikan beberapa point yang penting mengenai sertifikasi, mulai dari keuntungannya, jenisnya, cara ujiannya, sampai ada beberapa contoh soalnya. Lebih lengkapnya rekans bisa mendownload e-book nya. Dan topik ini saya tuliskan lagi dengan latar belakang pertanyaan-pertanyaan dari siswa-siswa di kelas dan kunjungan saya ke UPI: Bedah Windows 7, beberapa waktu lalu.
Pertama yang ingin saya sampaikan adalah mengenai keuntungan (benefit) dengan kita memiliki sertifikasi (saya akan fokus ke Microsoft). Hal yang paling nyata adalah “we will be Internationally recognized”. Hal ini jika dibandingkan dengan (mohon maaf) gelar yang kita dapat dari kuliah, yang terkesan hanya berlaku di Indonesia. Pengalaman saya sendiri, banyak moment ketika saya menghadapi interview international via telepon, ST yang saya punya malah menjadi bahan diskusi. Jadi, untuk rekans yang kiranya punya keinginan untuk bekerja secara internasional, maka memiliki sertifikasi adalah sesuatu yang perlu dimiliki – tentu saja dibarengi dengan penguasaan bahasa internasional (Inggris, Mandarin, dll).
Sertifikasi juga akan menjadikan kita “berbeda” – punya nilai plus – dibandingkan dengan lulusan PTN/PTS yang lain, karena kita punya skill yang disertifikasi. Nilai plus karena kita punya sesuatu untuk bisa lebih dipertimbangkan terserap oleh perusahaan “calon tempat kita bekerja”. Nilai plus ini juga bisa berarti kita punya kesempatan menegosiasikan fee yang nantinya akan kita dapat. Beberapa siswa bahkan sengaja ikut training, ujian dan be certified hanya dengan tujuan untuk menaikkan gaji.
Keuntungan selanjutnya adalah kita akan punya akses dan menjadi bagian dari teknologi vendor – Microsoft. Saya, dan tentu saja rekans lain yang sudah setidak-tidaknya MCP (Microsoft Certified Partner) bisa mengakses pengetahuan, lab practices, puluhan e-book, mendapat potongan harga untuk buku-buku, produk, merchandise, bahkan bisa mendapatkan kesempatan untuk mencoba software baru secara legal (genuine), dan gratis untuk selanjutnya bisa memberikan feedback kita ke Microsoft.
Selanjutnya, setelah kita tahu keuntungan yang akan kita peroleh, pertanyaan yang muncul biasanya adalah: apakah sulit untuk mendapatkannnya? Saya tidak akan jawab dengan sulit, mudah atau gampang-gampang susah. Seperti yang disampaikan Mr. Witwicky (The Transformers): “No Sacrifice, No Glory”. Untuk mendapatkan itu semua, memang ada harga yang harus dibayar. Harga dalam hal waktu, usaha, dan uang. Saya analogikan seperti kita akan menhadapi ujian UMPTN. Untuk lulus, ada harga dalam tiga hal itu yang harus dibayarkan.
Untuk waktu dan usaha, saya yakin rekans sudah jelas bahwa dalam jangka waktu tertentu, kita harus fokus belajar dan latihan. Sumber belajar dan latihan banyak. Dan Microsoft selalu menyediakan yang namanya Self-Paced materials. Jika rekans ingin ikut training, juga sangat disarankan.
Kemudian, jika rekans sudah siap, tinggal ujian saja. Detail tentang track teknologi, tata-cara ujian, sudah disampaikan oleh Suhu Aris Lesmana.
Tidak seperti UTS/UAS atau UMPTN, ujian sertifikasi bisa dilakukan kapan saja, tinggal disesuaikan dengan jadwal yang ada di Prometric Testing Center. Rekans bisa cek di mana saja Prometric Testing Center yang terdekat dengan posisi rekans sekalian melalui situs Prometric.
Pada tahap ini, biasanya, kendala yang dihadapi adalah fee ujian. Di Indonesia, satu kali ujian, rekans harus membayar $50. Mahal? Sebetulnya tidak, secara.. sepengetahuan saya, fee ujian di Indonesia adalah termurah nomor 2 setelah India. Tentu saja sepertinya rekans belum tentu mau ujian di sana supaya fee nya murah. Kendala biaya ini biasanya dihadapi oleh rekans mahasiswa.
Untuk kendala ini, saya ada beberapa tips. Banyak jalan menuju Roma. Pertama, cari sponsor. Biasanya yang terdekat ya, orang tua (hehehe). Bisa juga coba mengajukan ke donatur atau perusahaan.
Kedua, selalu dekat dengan komunitas,, terutama MUGIERS :) Karena dari sana kita bisa mendapatkan beberapa promo yang berkaitan dengan ujian. Contohnya “Windows 7 Certification Hero”.
Program ini menawarkan kepada 77 orang pertama yang mengikuti ujian MCTS Windows 7 dan lulus, ganjarannya adalah pengembalian exam fee, mendapat T-Shirt, Plakat, dan berkesempatan mengikuti undian yang hadiahnya lumayan. Jadi, rekans sebetulnya bisa tersertifikasi gratis, juga mendapatkan hadiah. Program ini masih berlangsung hingga 18 November. Cek dahulu apakah sudah 77 orang atau belum.
Program lain di antaranya adalah:
- MVP Heroes, biasanya ada waktu-waktunya MVP baru bisa “membagikan” voucher discount untuk exam fee 15% hingga 25% (lumayan).
- MCT Rewards, rekans bisa menghubungi para MCT (Microsoft Certified Trainer) untuk mendapatkan voucher discount exam fee. (lumayan).
- Program-program learning dari Microsoft. Untuk tahun ini, Microsoft menyediakan voucher discount untuk beberapa ujian tertentu, 10% hingga 25%, yang bisa rekans request dan berlaku hingga 31 Desember 2009. (lumayan). Cek di sini atau di sini.
- Program-program dari beberapa perusahaan IT/Training center. Contoh cek di sini.
Akhir kata, “With Great Power, Comes Great Responsibility” - Ben Parker (Spiderman). Menjadi seseorang yang certified, berarti juga orang lain/perusahaan akan mempunyai harapan yang “plus” terhadap rekans. Jadi, pastikan rekans selalu belajar, latihan, dan ter-update dengan teknologi terbaru. Selalu siap terhadap perubahan, rendah hati dan terbuka menghadapi kritik dan saran yang membangun.
Semoga bermanfaat.
Written with Windows Live Writer
Bambang F. Indarto, S.T.
MCP, MCT, MCTS, MCPD, CCNA
Windows 7 dengan segala fitur baru dan kemampuannya menawarkan kepada kita kemudahan dan kecepatan untuk meningkatkan produktivitas dalam bekerja. Dan kita tentu saja juga harus tahu bagaimana menggunakan Windows yang baru ini dengan optimal. salah satu cara untuk mengoptimalkan kerja adalah dengan menggunakan shortcut key. Berdasarkan pengalaman dan pengamatan, penggunaan shortcut key pada keyboard dapat mengurangi delay yang berasal dari penggunaan mouse.
Berikut adalah beberapa shortcut key yang biasa saya gunakan.
+ P Untuk bekerja dengan multiple monitors.
Shortcut ini lebih cepat diakses daripada kita menggunakan tombol Function (karena tiap-tiap pc/notebook, tombol Function-nya berbeda-beda) atau men-setting Display Properties (karena memerlukan beberapa langkah).

+ Shift + Arrow Left/Right Shortcut ini juga sangat berguna bagi rekans yang bekerja dengan multiple monitor (extend mode), terutama trainer/guru 
. Shortcut ini akan memindahkan window ke layar yang lain.
+ Tab Untuk berpindah antar Window disertai efek Aero WinFlip 3D.
Shortcut ini sudah ada sejak Windows Vista dan memerlukan graphic card yang memadai. Tekan Tab untuk “bergerak maju”, Shift+Tab untuk “bergerak mundur”, atau dengan scroll mouse. Rekans bisa memunculkan Window yang diinginkan dengan menempatkan window di paling depan, atau dengan men-klik salah satu window yang ada di stack. Jika rekans tidak nyaman untuk terus menerus menekan tombol
pada saat menggunakan fitur ini, rekans bisa lakukan kombinasi Ctrl +
+ Tab dan selanjutnya tombol arrow atau scroll mouse untuk bergerak maju mundur; atau membuat shortcut nya di taskbar ke %SystemRoot%\system32\rundll32.exe DwmApi #105. Icon-nya bisa rekans ganti dengan koleksi icon yang ada di %SystemRoot%\System32\imageres.dll. Tentu saja, kombinasi Alt + Tab juga masih dapat digunakan.
+ X Untuk mengakses Mobility Center.
Shortcut ini sangat bermanfaat sekali untuk rekans yang mobile dalam hal menkonfigurasi notebook dengan lebih cepat.

+ S Untuk membuat klipping dengan (OneNote Screen Clipping Tool).
Shortcut ini bekerja seperti Snipping Tool, dan bisa diakses jika Office OneNote sudah terinstall di PC.
+ Arrow Left/Right Untuk menempatkan window di kiri/kanan layar.
Shortcut ini memanfaatkan fitur AeroSnap yang nantinya bisa digunakan untuk membandingkan isi window.
+ Arrow Up/Down Untuk maximize dan minimize window.
Selain shortcut ini, rekans juga bisa memanfaatkan
+ M untuk Minimize All Windows,
+ Shift + M untuk kebalikannya (Maximize All),
+ Home untuk meminimize semua window kecuali window yang sedang aktif (mirip seperti fitur AeroShake), dan
+ D untuk show/hide Desktop
+ n (n adalah angka yang dimulai dari 1) Untuk menjalankan aplikasi yang ada di quick launch.
Contoh,
+ 3 akan menjalankan Media Player.
+ Space Bar Untuk membuat semua windows menjadi transparan, sehingga kita bisa melihat isi desktop. Alternatifnya, rekans bisa arahkan pointer mouse ke pojok kanan bawah (lokasi "Show Desktop" di Windows 7.

+ F Untuk mengaktifkan fungsi Search. Shortcut ini sepertinya tidak lagi berguna karena Windows 7 sudah menyediakan fitur Search hampir di semua tempat.
- Ctrl+Scroll Mouse Untuk merubah view pada windows explorer (extra large, small, list view, detail).
- Ctrl+Tab Untuk berpindah Tab di Internet Explorer.
+ E Untuk menjalankan Windows Explorer.
+ = Untuk mengaktifkan magnifier.
+ R Untuk menjalankan aplikasi Run.
+ L Untuk mengunci Computer
+ U Untuk menjalankan Ease of Access Center
+ T Untuk memilih aplikasi-aplikasi yang ada di taskbar.
Semoga bermanfaat.
Written with Windows Live Writer
Bambang F. Indarto, S.T.
MCP, MCT, MCTS, MCPD, CCNA
Fitur ini adalah fitur yang baru tersedia di Windows 7 dan Windows Server 2008 R2. Pada saat ujian, ada beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan fitur ini, jadi saya lakukan research dan coba dituliskan di blog.
BranchCache didesain sebagai solusi untuk masalah-masalah yang biasanya dihadapi pada saat kantor pusat (HQ) terhubung dengan cabang (branch) dengan koneksi WAN. Teknologi WAN – seperti yang kita ketahui bersama – kecepatannya masih kurang memadai sehingga membuat user di cabang mengalami “penderitaan” pada saat mereka ingin melakukan transaksi dengan pusat, atau men-download dokumen yang diperlukan, yang beberapa di antaranya berukuran cukup besar. Di sisi lain, IT profesional yang bekerja di perusahaan tersebut biasanya berjibaku mengurangi atau mengoptimalkan utilisasi WAN link, atau menjadwalkan penggunaan WAN link untuk user.
Berangkat dari masalah tersebut, fitur ini didesain dengan tujuan untuk mengurangi utilisasi WAN link dan meningkatkan produktivitas user dalam perusahaan.
Apa yang dilakukan BranchCache?
Pertama kali client di branch me-request suatu dokumen dari HQ, HQ akan mengirimkan dokumen ID (block hash) ke client. Tentu saja setelah melaui proses otorisasi dan otentikasi. Melalui web service discovery protocol, client akan cek apakah dokumen dengan ID tersebut tersedia di BranchCache. Jika tidak ada, maka dokumen akan di-download dari HQ ke client (melalui WAN link) dan pada saat bersamaan, dokumen tersebut akan masuk (di-cache) ke BranchCache.
Selanjutnya jika client yang sama, atau client lain di branch, me-request dokumen yang sama, dan ternyata ID dokumen nya ditemukan di BranchCache, maka client tersebut akan langsung mendownloadnya dari BranchCache, sehingga tidak perlu menggunakan WAN link ke HQ. Catatan: di server (HQ), jika dokumen tersebut berubah, atau ter-update, ID nya akan berubah.
Bagaimana BranchCache Bekerja?
BranchCache dapat diaplikasikan untuk traffic http/https dan smb, dan hanya berfokus di Intranet. Jadi traffic yg berbasiskan protocol tersebut akan dapat mengoptimalkan fitur ini. contohnya, Sharepoint Service, Training Video (web), Windows Explorer, Robocopy CopyFile, Windows Media Player (WMP), Internet Explorer, Flash, dan Silverlight.
Sumber: Microsoft Technet
BranchCache bisa bekerja dengan dua mode:
- Distributed Cache: Cache didistribusikan di client pc di branch. Client OS adalah Windows 7. Mode ini memberikan keuntungan dalam hal inventasi hardware yang tidak terlalu tinggi.
- Hosted Cache: Cache di-host di server yang ada di branch. Server OS adalah Windows Server 2008 R2. Mode ini memerlukan investasi tambahan (menambah server). Lebih memberikan keuntungan dalam hal ketersediaan cache, karena server jarang dimatikan dan bisa diakses dari LAN yang ber-subnet.
|
|
|
Distributed Cache
|
Hosted Cache
|
| |
Sumber: Microsoft Technet |
Dari demo yang diperlihatkan oleh Devrim Iyigun, Senior Product Manager Client Team, hasil implementasi BranchCache adalah sebagai berikut.
Aktivitas: membuka webpage intranet dan mendownload dokumen MS. Word (sebuah sales order form) sebesar 1.76 MB. Pertama kali melakukan kedua aktivitas, web di-load sempurna setelah menunggu beberapa detik, dan dokumen ter-download dalam waktu 52 detik. Aktivitas yang sama kemudian dilakukan sesudahnya, menggunakan pc lain. hasilnya adalah, web page dapat di load sempurna dengan lebih “instant”, dan dokumen ter-download dalam waktu 1.7 detik.
Konfigurasi Branchcache
Di Windows 7, fitur ini bisa di-enable dan dikonfigurasi dari Group Policy.
Untuk Distributed cache, by default, BranchCache akan mengambil 5% dari kapasitas hard disk untuk cache. Untuk Hosted Cache, yang perlu dilakukan adalah mencantumkan lokasi server-nya.
Di sisi server, yang perlu dilakukan adalah menginstall fitur ini melalui Add Feature yang ada di Server Manager kemudian me-Start servicenya dari Server Manager-Services. Lalu, jika server tersebut akan dijadikan server untuk Hosted Cache, jalankan command prompt dan run perintah sebagai berikut:
netsh branchcache set service mode=HOSTEDSERVER.
Semoga bermanfaat.
Written with Windows Live Writer
Bambang F. Indarto, S.T.
MCP, MCT, MCTS, MCPD, CCNA
"Well, after the WOW WOW that i've been experienced with the Windows 7 Ultimate RTM installed in my Lenovo, I decided to take the 070-680 exam TS: Windows 7. Quite hard questions but thanks God I could pass it well, hopefully that I'm one of the 77. Also thanks to friends that provide me links and materials to study. Some of them are Vista materials, that's ok. And also I want to thanks to my wife and children for the support. Now, in this post, I want to share about other interesting thing about this wonderful operating system from Microsoft.
And that would be Windows 7 Speech Recognition."
Rekans,
Teks di atas adalah sekelumit speech yang saya ucapkan dan ditulis oleh Windows 7 Speech Recognition (SR). Untuk teks yg Bahasa Indonesia ini, saya ketik sendiri, SR nya sy off kan, karena pada saat berucap kata-kata dalam Bahasa Indonesia, hasilnya lain :)
Sangat menyenangkan sekali bisa mencoba Windows 7 SR, karena fitur SR ini memang menjadi perhatian sy sejak sy mencobanya di Windows XP/Office XP. Dan upgrade fiturnya sy bisa katakan sangat banyak. Singkat kata saya langsung list saja.
Untuk Speech Recognition:
- bisa mengenali kata-kata dengan lebih baik. error nya tidak sebanyak dulu (XP).
- bisa melakukan seleksi teks dan untuk kemudian mengganti teks ybs dengan teks lain atau menghapus isi seleksi.
- bisa mengantarkan kursor ke posisi tertentu. Misalnya di depan suatu teks, di belakang suatu teks, ke awal kalimat atau ke akhir kalimat.
- bisa diberikan perintah untuk membuat tanda titik, koma, titik koma, paragraf baru atau membuat baris baru dengan lebih akurat.
Untuk Voice Command:
- Perintah dikenali dengan lebih presisi. Membuka Start Menu dengan perintah "Start". Atau membuka aplikasi dengan (contoh Notepad & Photoshop) "Start Notepad" dan "Start Photoshop"
- Switch ke Windows yang lain.
- Bisa membuka-tutup suatu window dengan mudah (Say: "Close That").
- Menandai desktop icons, tabs, tools dengan nomor ("Show Numbers"), untuk kemudian kita sebutkan nomornya untuk menuju ke icon, tab atau tool yg kita maksud.
- Mengenali perintah double-click dan click. (Contoh: "Double Click Computer).
- Bahkan mengenali right-click :)
- Berinteraksi dengan baik pada saat kita bekerja dengan aplikasi dari Microsoft dan Non-Microsoft.
Note: Saya menghasilkan gambar-gambar pada blog post ini dengan Photoshop-Windows 7 SR, sejak membuat new file, hingga save.
Masih banyak fitur-fitur yang lain yang bisa rekans coba. Untuk memulainya, tinggal klik Windows Button, ketik "Speech Recognition", jangan dikirim ke 9093, tapi ikuti saja wizzardnya.

Seperti biasa, SR memerlukan speaker dan terutama microphone yang kualitasnya bagus. tapi, sebagai info saja, saya mencoba fitur ini dengan speaker dan microphone built-in yang ada di lenovo Y-410 saya. Dan akan lebih baik mungkin jika menggunakan headset dari Sennheiser (maunya, hehehe).
Setelah selesai wizzard, pada desktop akan ada tambahan tool yang bisa diaktif-nonaktifkan dengan klik mouse atau dengan suara.

Akhir kata, selamat menikmati fitur ini. Saking excited-nya, saat ini saya kelihatan seperti orang gila yg berbicara pada pc. Masa depan yang kita liihat di film startrek (yang memberikan perintah ke komputer lewat suara) sepertinya makin nyata. Dan, fitur Veriface bawaan lenovo juga berjalan sangat baik di Windows 7, jadi saya tinggal nongkrong aja di depan pc and walla.... im logged in. :)
Masil berkhayal... "Computer" "Batagor" Wallaaa... Batagor ada di meja saya. hehehe.
Bambang F. Indarto
MCP, MCT, MCTS, MCPD, CCNA
Microsoft Office Speech Recognition adalah salah satu fitur yang menurut saya sangat membanggakan dan memudahkan pengguna ketika bekerja di lingkungan Microsoft Office. Kalau tidak salah, saya sudah bisa menggunakan fitur ini sejak Microsoft Office versi XP. Dengan fitur ini, user dimanjakan dengan fasilitas Voice Command dan Voice Dictation.
Sesuai dengan namanya, Voice Command adalah fitur memberikan instruksi kepada Office. Misalnya, untuk membuat file baru, biasanya kita menggunakan keyboard dengan Ctrl+N stroke, atau menggunakan mouse (klik di menu File, dan pilih New). Voice Command menambahkan opsi memberikan instruksi kepada Office dengan hanya mengatakan“Menu File New” menggunakan microphone. Voice Dictate adalah fitur men-dictate kata-kata menggunakan suara (microphone) dan MS Office akan menuliskannya secara otomatis pada dokumen yang bersangkutan.
Untuk bisa menggunakan fitur ini, ada beberapa langkah yang harus dipenuhi. Secara garis besar, user akan diminta untuk membuat profile suara. Untuk membuat profile suara ini, pastikan microphone yang digunakan adalah microphone yang cukup baik kualitasnya dan lingkungan di sekitar user tidak terlalu berisik (akan lebih baik lagi jika tidak ada suara lain selain suara user yang bersangkutan).
Ok, mari kita mulai. Saya simulasikan di Microsoft Office 2003.
Klik Menu Options – Speech untuk memulai Speech Recognition User Profile Wizard.
Pada wizard ini, pertama, user akan diminta untuk menyesuaikan microphone volume level.
Langkah berikutnya adalah text positioning.
Setelah itu, wizard akan meminta user untuk membuat voice profile. Pembuatannya berbentuk “training suara”; user akan diminta untuk membaca serangkaian kalimat. Langkah ini sebenarnya bisa di-skip, dan Microsoft Office akan me-load profile default. Tapi saya sarankan untuk menyelesaikannya. Memang membutuhkan kesabaran, tapi voice result nya akan sangat akurat.
Ok. Konfigrasi sudah selesai. Microsoft Office akan menampilkan Speech ToolBar. Pada toolbar ini, user bisa menggunakan opsi Voice Command dan mulai memberikan instruksi-instruksi kepada Office, atau menggunakan Dictation untuk mendikte teks kepada Office.

Cheers,
Semoga bermanfaat, selamat mencoba.
Written with Windows Live Writer
Styles, di dalam keluarga Microsoft Office, dapat digunakan untuk merencanakan dokumen yang akan kita buat. Jika ada rekan-rekan sedang menyusun dokumen yang lumayan besar dan terstruktur, seperti buku, skripsi, thesis, report, laporan, dan lain-lain, maka rekan-rekan dapat menggunakan styles untuk merencanakan dan "mempermudah hidup" :)
Sebagai contoh kasus, misalnya kita sedang dalam proses pengerjaan penulisan tugas akhir. Berikut adalah bagaimana merencanakan dan menyusun dokumen dengan menggunakan styles.
A. Styles dapat digunakan untuk menformat dokumen dengan lebih cepat dan teratur.
Yang dimaksud di sini adalah, jika kita sedang menulis laporan, biasanya ada beberapa bagian dari teks yang kita tuliskan akan memiliki format yang sama. Misalnya, judul bab (Align: Center, FontStyle: Bold, Size: 14, AllCaps), atau sub-bab (buletted: 2 level, FontStyle: Bold), atau sub-sub-bab (buletted: 3 level, FontStyle: Bold), termasuk indentation-nya , seperti di gambar (tidak mencantumkan konten).

Format-format itu bisa kita rekam di dalam styles untuk kita gunakan kembali nantinya. Untuk merekamnya, bisa dengan mengikuti langkah simple sebagai berikut:
Sorot teks yang sudah terformat, lalu klik di toolbar style, ketikkan nama style yang diinginkan, misalnya "bambangBab" untuk judul bab, "bambangSub1 untuk sub bab level 1.
Sesudah melakukan proses perekaman styles tersebut, styles yang sudah direkam dapat dilihat di list of styles dengan mengklik drop down arrow pada styles toolbar.
Untuk selanjutnya, jika rekan ingin menggunakan styles tersebut di bagian lain pada dokumen laporan, tinggal sorot saja teks-nya dan pilih style yang diinginkan. Misalnya untuk point ke dua di bab pendahuluan.
Khusus untuk numberring, di beberapa kasus, perlu ada sedikit penyesuaian untuk merestart kembali numberring level satu nya. (Karena ada masukan dari siswa dan rekan bahwa kadang-kadang, pada saat memasuki bab 2 atau bab 3, numberring level satu nya tidak restart, malah melanjutkan numberring dari bab 1), seperti gambar di bawah ini.

Penyesuaian yang akan dilakukan, bisa dengan mengikuti langkah berikut:
- klik ganda di numberring (angka 1.3)
- klik opsi restart numberring dan klik di customize button.
- ganti number level ke level 1, set start level 1 numberring ke 2, dan pilih opsi this point forward.
B. Styles sudah direkam dapat digunakan untuk keperluan lain.
Keperluan yang lain dalam hal ini contohnya adalah pembuatan Table of Content (TOC) atau Index. Sebagai contoh, kita akan lihat pembuatan "Instant" TOC.
- Klik di menu Insert - Reference - Index and Tables
- Pilih tab Table of Content
- Pilih Tab Leader, Formats, dan Level TOC yang ingin ditampilkan.
- Klik tombol Options.
- Hapus angka level TOC yang tersedia, dan atur level TOC kita sendiri sesuai dengan level Styles yang telah kita buat.
- Klik OK, dan Klik OK untuk mengakhiri kotak dialog References.
- Walla... TOC sudah jadi!

Jika misalnya rekan-rekan ingin menambahkan beberapa items ke dalam daftar isi tersebut (misalnya halaman daftar isi itu sendiri, halaman untuk abstraksi, kata pengantar, lembar pengesahan, daftar gambar dan lain sebagainya), yang perlu rekan-rekan lakukan hanya menyorot judul-judulnya dan set style nya (dalam case ini "bambangJudul). Setelah itu... tinggal klik kanan TOC nya dan pilih opsi Update Entire TOC.
Walla.... Rekan-rekan tidak perlu lagi mengetik sendiri TOC laporan nya.
Semoga bermanfaat.
Written with Windows Live Writer.
Dalam satu minggu ini, satu teman dan satu famili saya mengeluh karena mereka mengalami problem dengan OS nya, kemudian diinstall ulang, dan dokumen office nya tersapu full format. Sayang sekali memang. Tapi sebetulnya hal seperti itu bisa dihindari. Apalagi mereka ini mempartisi hard disk nya. So, saya sarankan kepada mereka, untuk membiasakan diri mengkonfigurasi office supaya pada saat mereka menyimpan dokumen office, dokumen itu tidak disimpan di lokasi defaultnya (yang tentu saja di partisi yang sama dengan partisi OS).
Biasanya, MS Office menempatkan dokumen-dokumen di folder My Documents (per user) sebagai default locationnya. Berikut adalah cara untuk memindahkan default location.
Jika masih menggunakan MS Office 2003:
- Untuk MS Word, klik di menu Tools - Option. Pilih di opsi tab File Location.
- Untuk MS Excel, klik di menu Tools - Option. Pilih di opsi tab General.
- Untuk MS PowerPoint, klik di menu Tools - Option. Pilih di opsi tab Save.
- Untuk MS Access, klik di menu Tools - Option. Pilih di opsi tab General.
- Untuk MS Publisher, klik di menu Tools - Option. Pilih di opsi tab General.
- Ubah Default File Location untuk Dokumen dengan mem-browse ke folder baru. Sebaiknya folder tersebut berada di partisi yang selain dari partisi OS (partisi D atau E, jika partisi OS nya ada di C).
Jika menggunakan MS Office 2007:
- Klik di Office button, klik di Options (Word Options, Excel Options, dll)
- Pilih opsi tabs Save
- Ubah Default File Location untuk Dokumen dengan mem-browse ke folder baru. Sebaiknya folder tersebut berada di partisi yang selain dari partisi OS (partisi D atau E, jika partisi OS nya ada di C).
Cheers.
Semoga bermanfaat.
Entah kenapa, baru di sesi training kali ini saya mendapati siswa (beberapa siswa sekaligus) yang menemui kesulitan untuk menginstall SQL Server 2000 di pc ber-OS Windows XP dan Windows 2000. Versi SQL server yang lumayan berumur, tapi ternyata masih banyak yang pakai, dan ternyata sesi training nya masih ada. 
Ok... pesan errornya adalah... “A previous program installation created pending file operations on
the installation machine. You must restart the computer before running
setup.”
Well… Pada kasus ini, logikanya adalah... ada proses installasi aplikasi sebelumnya yang belum terselesaikan dengan proses restart. Saya minta siswa untuk meretart pc-nya. Tapi, tetap masih tidak bisa melakukan installasi SQL Server dengan problem yang sama.
Kalau begitu, berarti kemungkinan lain adalah, SQl Server mendeteksi rekaman di registry bahwa ada proses installasi yang ter-pending. Solusi untuk ini adalah, menghapus entry registry yang merujuk ke situ.
- Restart PC.
- Klik Start, pilih Run.
- Ketik: Regedit, Click OK.
NOTE: BackUp registry terlebih dahulu dengan klik di File menu, kemudian klik Export. (atau Export Registry File dari Registry menu di Windows 2000).
- Di Registry Editor, buka registry subkey berikut: HKEY_LOCAL_MACHINE\SYSTEM\CurrentControlSet\Control\Session Manager
- Di Panel sebelah kanan, klik kanan entry PendingFileRenameOperations. Pilih Delete.
- Pada saat Confirm Value Delete, klik Yes.
- Sekarang bisa dicoba untuk melakukan kembali installasi SQL Server 2000-nya. Biasanya berhasil. Kalo masih belum bisa, di-restart dulu.
Cheers.
Posting pertama dengan Bahasa indonesia. Saya mau share saja beberapa pengalaman saya sebagai trainer.
Menjadi trainer itu gampang-gampang susah. Gampang karena ya, pertama, semua orang bisa menjadi trainer, dan kedua pekerjaanya cenderung hanya menginstruksikan dan "berbicara" (mostly) saja. Susah.. karena trainer akan menghadapi berbagai macam orang yang mewakili berbagai macam kepribadian, harapan, dan masalah. Sepertinya, hal ini lah yang membuat orang tidak memilih menjadi trainer. Saya sering mendapatkan pendapat, "berbicara di depan banyak orang itu membuat perut sakit", "lutut bergetar", "grogi" atau "isi kepala hilang.. blank!"
Kalau tentang menjadi trainer itu gampang dan semua orang bisa menjadi trainer, saya akan buat itu sebagai pengumuman saja. Karena memang begitulah adanya. Jadi, kalau seseorang tidak mau jadi trainer, itu cuma masalah mau atau tidak saja.
Nah, untuk orang yang mau jadi trainer, atau yang memandang bahwa menjadi trainer itu sulit, saya akan share sesuatu. Syukur alhamdulillah saya dipilihkan oleh Allah SWT seorang istri yg berlatar belakang psikologi, jadi sedikit banyak, saya ada referensi. :)
Issue pertama, seorang trainer tentu saja akan lebih banyak berhadapan dengan manusia/orang lain. Banyak orang yang berkecimpung di dunia IT, karena mereka memiliki "long relationship" dengan mesin (daripada dengan teman atau bahkan pasangannya.. mungkin, he he he) cenderung memperlakukan siswa seperti perlakuan mereka terhadap mesin. Atau menganggap siswa memiki kemampuan yang (hampir) sama dengan mesin. Contoh kasus, kita mungkin kesal kalo sang siswa tidak ingat tentang apa yang sudah dibahas di bab sebelumnya. Atau... menjadi frustasi karena siswa "ngga ngerti-ngerti". Atau, tiba-tiba siswa mencoba sesuatu yang baru, memodifikasi sesi lab, dan hasilnya adalah error dan waktu training habis untuk ngutak-ngatik sesi lab itu.
Untuk issue yang ini, tentu saja kita perlu ingat bahwa komponennya manusia dan mesin itu beda. Prosesor dan memorinya manusia dengan mesin itu beda. Manusia mudah lupa, mesin tidak. Manusia gampang bosan, mesin tidak. Manusia adalah mahkluk kreatif, mesin tidak. Manusia punya imajinasi, mesin tidak. Mesin bisa menyimpan banyak informasi secara instant dan mengakses informasi itu dengan cepat, manusia membutuhkan waktu dan pengulangan untuk bisa menyimpan informasi untuk waktu yang lama. Mesin akan langsung memberikan informasi pada saat ada permintaan, sedangkan manusia... biasanya akan lihat ke langit-langit dulu, barangkali informasi yang diminta ada di sana, he he..
Kuncinya, untuk menjadi trainer itu adalah "mengerti manusia".
Issue kedua, setelah kita menyadari bahwa hubungan trainers dengan trainee adalah human relationship, rasanya tinggal bagaimana kita dapat memberikan instruksi, berbicara, atau berkomunikasi dengan baik (sehubungan dengan kerjaannya trainer). Saya akan coba ketengahkan beberapa tips, sesuai dengan pengalaman dan beberapa referensi.
Tips No.1: Jadilah murid yang terbaik. Yang dimaksud adalah, setidaknya kita pernah mengalami apa yang akan dialami oleh calon siswa kita. Contohnya, jika kita akan memberikan training sertifikasi, setidaknya kita sudah pernah mengalami trainingnya sampai ke ujiannya (dan lulus). Trainers akan lebih pede dan tahu apa yang akan dialami/dilewati oleh siswa. Pengalaman itu bisa di-share. Sewaktu saya diminta memberikan training di salah satu Cisco Academy, saya langsung ikut salah satu kelas-nya, belajar, dan mengerjakan semua test nya. Memang berat, karena ujiannya banyak sekali, tapi berbagi pengalaman rasanya memang lebih baik daripada berbagi knowledge.
Tips No. 2: Kenali siswa. Dalam hal ini, selain kita perlu mengenal nama dan latar belakang mereka, yang lebih penting lagi adalah mengetahui motivasi mereka dalam menjalani training. Apa saja harapan (expectation) mereka begitu mereka menyelesaikan training. Dengan mengenali motivasi dan goal mereka, trainers akan lebih bisa mengontrol situasi dan mensinkronkan materi dan harapan.
Tips No. 3: Contoh dan latar belakang munculnya suatu konsep adalah lebih penting daripada konsepnya itu sendiri. Pada saat menerangkan konsep, usahakan jangan mengenalkan nama konsepnya dulu, tapi akan lebih baik berangkat dari contoh masalah; kenapa kita perlu si "konsep" itu. Dan kita juga bisa mulai menerangkan mengenai konsep itu dengan analogi-analogi yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Misalnya tentang Web Service. Saya pernah membahas mengenai konsep ini di kelas dengan menganalogikannya dengan laundry service. Daripada kita nyuci sendiri, lebih baik kirim aja pakaian ke laundry, kita tinggal ambil hasilnya. Daripada kita buat function sendiri, lebih baik cari aja service yang menyediakan function itu di Internet, kirim value yang akan diproses, dan.. walla.. kita dapat hasilnya.
Tips No. 4: Be Updated. Selalu update diri. Teknologi baru selalu datang. Selalu terhubungan dengan sumber pengetahuan yang ter-update, komunitas, dan industri. Kalau ada kesempatan untuk berkecimpung di industri.. just grab it. Hal itu akan terus menambah pengalaman kita.
Tips No. 5: Remember, No Body is Perfect. Trainers pun bukan personal yang tahu dan bisa segalanya. Selalu rendah hati. Ada saat-saat dimana kita belum bisa memberikan solusi untuk apa-apa yang ditanyakan siswa, atau belum bisa menjawab pertanyaan siswa. Apalagi kalau kebetulan kita adalah trainer yang pengalaman industrinya sedikit (seperti saya) atau fresh graduate yang kebetulan pengalaman men-training dan industrinya belum banyak. Tidak terlalu bermasalah kalau kita mengakui bahwa kita belum memiliki solusi/jawabannya (asal jangan sering-sering). Jangan posisikan diri sebagai problem solver, tapi posisikan diri lebih cenderung ke fasilitator. Gali pengetahuan dan pengalaman siswa yang lain. Apalagi kalau siswanya kebetulan seorang profesional di bidangnya masing-masing. Banyak keuntungan jika kita memposisikan diri sebagai fasilitator. Pertama, siswa tidak akan terlalu tergantung kepada trainers. Daripada kita memberikan solusi secara langsung, lebih baik kita bimbing mereka tentang bagaimana mencari solusi. Kedua, mind-sharing akan memperkaya semua civitas kelas. Termasuk trainer-nya.
Kedah, 27 November 2008.