Si Bejo mendapatkan amanah menjadi pimpro. Amanah yang harus dikelola hampir 300 Milyar Rupiah. Proyek dibagi menjadi beberapa paket pekerjaan. Paket-paket ditenderkan melalui pelelangan umum dengan prakualifikasi. Ada civil work, furniture, peralatan dan lain- lain. Setelah melalui seleksi, baik teknis dan administratif maka ditentukanlah pemenang tender paket-paket pekerjaan tersebut.
Sebagai aparat pengadaan barang jasa pemerintah, tugas si Bejo adalah melaksanakan proses pengadaan barang/jasa secara efisien, efektif, terbuka dan bersaing, transparan, adil/tidak diskriminatif dan akuntabel. Untuk tugas mengelola pengadaan barang/jasa tersebut maka si Bejo diberikan tunjangan fungsional sebesar Rp. 500.000,- per bulan.
Si Bejo adalah kepala keluarga dengan 3 anak dan seorang istri yang setia. Untuk menambah kebutuhan sehari-hari dan mengembangkan pengetahuan yang dimiliki, istrinya menjadi dosen tidak tetap di sebuah universitas swasta. Anak-anaknya sudah mulai besar-besar dan sangat membutuhkan perhatian dan terlebih-lebih biaya untuk sekolah.
Bejo tinggal di sebuah rumah tipe 45 dipinggiran kota, cicilannya belum lunas masih 10 tahun lagi. Mobil kesayangannya sedan butut keluaran tahun 70-an yang sangat setia untuk mengantar anak dan istri kemana-mana. Selama ini Si Bejo dikenal jujur, tidak neko-neko dan selalu menjaga amanah yang diberikan.
Setelah melaksanakan proses tender, maka terpilihnya Si Abu kontraktor yang memenangkan salah satu paket pengadaan. Begitu menang, Si Abu mengganti mobilnya menjadi Honda CRV baru. Kalau ke kantor si Bejo yang sederhana, si Abu tampak sangat flamboyan. Kalau ngajak makan pasti di hotel terkenal. Mulut manis dan layanan prima khas kontraktor-kontraktor proyek pemerintah. Sementara Si Bejo terpaksa ke kantor dengan tangan berlepotan oli, karena mobil bututnya mogok di tengah jalan dan setiap harinya masih bolak-balik mengantarkan istrinya untuk mencari tambahan sebagai dosen tidak tetap, untuk menutup cicilan rumah Rp. 750.000,- per bulan di BTN.
Melalui informasi 'intelejen', si Abu mendapatkan gambaran latar belakang keadaan dari si Bejo.
Setiap bulannya, Bejo memiliki kewenangan untuk mengevaluasi jalannya proyek dan menyetujui pencairan dana rata-rata 7 s/d 9 Milyar setiap bulannya, selama durasi proyek selama 36 bulan. Dan Bejo sang aparat telah menandatangan pakta integritas serta selalu membaca peraturan kepegawaian yang tidak boleh menerima apapun dari Sang Kontraktor.
Sebagian kontraktor menganggap kemenangan dalam proyek bukan sebagai amanah melainkan tumpukan rezeki. Bagi orang yang beriman, ketika mendapatkan rezeki, maka dia akan menyisihkan sebagian rezeki yang didapatnya untuk orang yang berhak. Tetapi jangan lupa ada *** si preman, yang terkadang memberikan 'pinjaman' rezeki agar mereka mendapatkan kemudahan di kemudian hari. Abu, Sang Kontraktor meminta KTP Si Bejo, untuk dibuatkan paspor. Umroh tinggal berangkat saja bersama istri. Bila perlu ibu yang masih dikampung bisa dibantu untuk pergi ke tanah suci. Atau jalan-jalan shoping ke Singapura saat liburan. "Sayang Pak Bejo kalau tidak dimanfaatkan untuk keluarga", begitu bujuk manis Abu Si Kontraktor.
Budi yang ditanam oleh Sang Kontraktor sebenarnya untuk keuntungan dirinya sendiri. Mereka menyiapkan segala sesuatu agar Si Bejo merasa berhutang budi, yang tentu harus dibayarnya suatu saat nanti.
Dengan pandai Abu Si Kontraktor menarik perhatian dan melakukan berbagai kebaikan dengan penuh semangat.
- - -
Si Bejo berresiko tinggi diobrak-abrik KPK, belum lagi mengakomodasi kunjungan untuk meninjau proyek mulai dari pejabat pusat, inspektorat, Bapenas, Departemen Keuangan, BPK, KPK apalagi kalau berurusan dengan Kejakasaan. Untuk setiap kunjungan tentu perlu disediakan akomodasi hotel berbintang juga sangu yang cukup, kalau ingin segalanya berjalan lancar. Model-model kunjungan yang tiada henti ini, tentu sulit dicarikan dari mana pos anggarannya. Dengan tunjuangan fungsional Rp. 500.000,- sebulan, apakah layak ditanggung resiko dan kekurangan anggaran itu ?
Si Bejo perlu hati yang luas, agar tidak ngenes melihat para kontraktor ganti mobil baru. Sementara si Bejo lembur setiap hari, stress menghadapi galaknya pemeriksa, tekanan para pendengki dari internal organisasi, sedangkan honor kecil, ganti mobilpun terasa sulit sekali. Saat itulah Sang Kontraktor dengan cerdik (ataukah licik?) menanamkan budi baik untuk membantu Si Bejo, yang apabila tergoda akan bisa celaka.
Disinilah politik hutang budi dimainkan. Budi ditanam secara manis dan halus, dan disertai dengan strategi tersembunyi bagaimana menuai 'hasil pasti' dikemudian hari. Strategi untuk mengekang gerak kendali dari Sang Pimpro untuk sulit mengadakan pengawasan. Jika pimpro sudah terkurung, Sang Kontraktor akan makin ganas untuk mendorong Si Bejo kejurang permasalahan yang dalam di kemudian hari.
Hutang budi beserta bunganya yang telah diinvest oleh si licik, biasanya harus dibayar dengan kompromi terhadap menurunnya kualitas atau volume pekerjaan, molornya waktu penyelesaian dan bengkaknya anggaran.
P E S A N :
Hati-hati dengan politik hutang budi. Lebih baik gunakan 'ilmu' agar anda tak terpenjara oleh taktik kuno tersebut. Ilmu manajemen proyek yang tercantum di A Guide to Project Management Body Of Knowledge dari Project Management Institute adalah panduan yang cukup baik untuk memahami manajemen proyek. Tentu harus disesuaikan dengan pemahaman terhadap peraturan perundangan yang berlaku, keadaan sosial, budaya dan keyakinan spiritual masyarakat Indonesia.
Dengan `ilmu' gabungan itu, ane yakin ente dapat membuat `pagar' agar proyek anda aman, sehingga bisa selamat sampai selesai dengan tepat biaya, tepat mutu dan tepat waktu. Karena itu, kumpulkanlah ilmu karena ilmu yang akan menjagamu, tapi jika harta yang engkau kumpulkan maka akhirnya engkaulah yang sibuk menjaga tumpukan harta itu.
Masih banyak tip dan trik untuk melepaskan diri dari jerat sistem anggaran dan keadaan, tanpa harus mengikuti genderang irama politik hutang budi para oknum kontraktor, yang akhirnya hanya membuat kita menjadi tukang stempel kepentingan mereka.
Quote of the Day:
I not only use all the brains I have but all that I can borrow.
--Thomas Woodrow Wilson